Showing posts with label Busan. Show all posts
Showing posts with label Busan. Show all posts

Tuesday, April 7, 2015

Yang Dibuang sayang Dari Perjalanan Ke Korea Selatan

Terlalu banyak cerita yang ingin saya ceritakan selama 10 hari jalan-jalan di Korea. Jadi saya bikin postingan ini deh, buat cerita-cerita yang unik-unik dan kali ga penting tapi sayang kalau ga di-share :p Ada juga beberapa hasil analisa sok tau saya tentang Korea Selatan.

1. Setir mobil di Korea itu ada di kiri, dan mobilnya berjalan di sisi kanan jalan. Akibatnya saya beberapa kali salah pintu saat mo naik mobil akibat kebiasaan di Indonesia. Mau nyebrang pun bingung harus tengok kanan atau kiri ya, dan ini terjadi sampai saya pulang, masih bingung terus =)
2. Kalau di Singapore saat naik eskalator di tempat umum dan kita mau diam aja maka kita harusnya berdiri di sisi kiri. Di Korea kebalikannya, kita harus berdiri di sisi kanan. Awal-awal saya sempat bingung dan seperti kehilangan arah haha... untung lama-lama mulai terbiasa.
3. Mukanya orang Korea licin-licin dan mulus-mulus *makanya saya kalap belanja produk perawatan mukanya*
4. Pembuangan sampah di Korea sudah dipilah-pilah, tapi saya pun ga ngerti karena pake hangeul. Tapi susah cari tempat sampah di tempat umum. Lumayan sering saya harus nenteng-nenteng sampah dulu sebelum akhirnya nemu tempat sampah.
5. Orang Korea hobi naik tangga. Kalau mau jalan-jalan di Korea harus mempersiapkan fisik karena akan sering naik tangga di station metro-nya. Jarang sekali ada eskalator. Lift yang disediakan juga kebanyakan diisi sama orang-orang tua. Anak-anak muda-nya mungkin gengsi kalau naik lift :p
6. Weekend di Korea di mulai dari hari Jumat malem sampai Sabtu malem. Ini kesimpulan saya sendiri, soalnya hari Minggu malem malah sepi ga seperti hari Jumat dan Sabtu malem di mana banyak berkeliaran orang yang udah mabuk di jalanan.
7. Di Metro-nya bisa ada pengamen dan pedagang kaki lima. Aneh tapi nyata.
8. Makan dan minum tidak dilarang di dalam metro. Malah saya nemu ada yang buang sampah sembarangan di dalam metro, persis kaya orang di Jakarta yang suka buang bungkus makanan di kolong bangku mikrolet.
9. Di Busan saya menemukan tuna wisma yang tidur di station metro, tapi lengkap dengan selimut dan koper berukuran mungkin 28”.
10. Orang Korea kalau nyetir rasanya lumayan ugal-ugalan. Terbukti saat nebeng teman-nya teman, dia seenak-nya putar balik tanpa kasi lampu sen terlebih dahulu. Saat naik bus kecil ke Gamcheon Cultural Village, saya harus berpegang erat-erat kalau tidak mau jatuh akibat supirnya nyetir seenak jidat. Saat naik taksi di Busan juga lumayan was wes wos supir-nya.
11. Tingkat disiplin-nya Korea masih kalah dibanding Singapore. Di Korea masih banyak yang nyebrang jalan seenaknya, khususnya jalan-jalan kecil. Kalau jalan besar sih udah nurutin lampu merah, daripada disundul mobil di jalan besar.
12. Mau ke Korea tapi ga bisa bahasa Korea? Ga usah khawatir. Kebanyakan pegawai di toko perawatan muka-nya bisa berbahasa mandarin. Saya sampai bingung, ini lagi di Taiwan apa Korea ya =)
13. Seoul itu luassss.... perjalanan naik metro untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain biasanya memakan waktu paling tidak 30 menit. Bandingkan sama Singapore. 30 menit rasanya sebentar lagi sudah bisa sampai Changi.
14. Kalau belanja dan ditanya mau kantong plastik atau tidak, pastikan aja kalau kita minta kantong plastik ga disuruh bayar tambahan. Saya belanja tas di toko sebelah apartment dan ternyata kantong plastiknya bayar 10 won. Sementara di Lotte Mart-nya harus bayar 100 won untuk kantong plastik dan 1000 won untuk paper bag.
15. Yang ini saya tahu dari teman-nya teman, kalau sedang minum-minum, menuang minuman ke gelas sendiri itu tidak sopan. Harus orang lain yang menuang ke gelas kita. Dan biasanya urutan menuang minuman ke gelas itu diurutkan dari yang paling tua sampai maknae.
16. Mungkin karena efek winter, jam 7 pagi di Seoul sama gelapnya seperti jam 5 pagi di Jakarta. Matahari baru terbit sekitar pukul 7.45-an dan akan terbenam sekitar pukul 17.45.
17. Makan di sana banyak self service-nya. Mulai dari ambil banchan sendiri, ambil perlengkapan makan sendiri, reffil air minum sendiri. Yang menyenangkan udah pasti dapat air putih yang free flow gratis. Mungkin karena air keran di sana bisa diminum, ga ada ruginya mereka nyediain air minum. Tap wotcha klo kata orang Australia :p
18. Kalau mau bayar, sepertinya ga ada namanya manggil waitress dan minta bill. Tinggal bawa aja nota makan yang uda disediain di meja ke kasir, lalu bayar dan selesai deh.
19. Toilet di Korea lumayan bersih sih kalau dibandingin sama Indonesia =D ga beda jauh sama Taiwan dan ga ada selang airnya, mungkin harus kaya Pandji yang nyimpen botol air mineral untuk ritual di kamar mandi =)
20. Karena lagi winter, cuci tangan juga harus hati-hati klo ga mau tangan langsung beku karena air dari wastafel yang dingin banget dan kadang air panasnya ga nyala.
21. Internetnya Korea ngebut was wes wos buangett... sampai di Jakarta, saya kembali terkaget-kaget dengan speed internet di sini :’(
22. Saking dinginnya udara di sana, baterai handphone ternyata malah jadi cepat habis. Kalau sudah begitu, saya matiin dulu handphone-nya, simpan di tempat yang hangat baru dinyalakan lagi. Suhu paling rendah yang pernah kami rasakan sepertinya -9 dengan real feel-nya -16. Sementara suhu tertinggi selama kami di sana sepertinya Cuma 6-7 derajat aja.
23. Kereta dan bus di Korea sangat tepat waktu. Malah bus dari Sokcho ke Seoul berangkat 2 menit lebih awal dari jadwal. Ga ada tuh namanya ngetem-ngetem nunggu penumpang haha..
24. Orang Korea suka nonton drama Korea. Kalau lagi di metro atau bus, saya ngintip ke layar handphone, biasanya mereka lagi nonton atau kadang main game.
25. Les bahasa Korea selama 3 bulan cuma membantu saya kalau mau tanya harga. Selebihnya seperti menguap begitu ketemu orang Korea asli. Ntah grogi atau memang ga bener ya belajarnya haha..
26. Winter itu dingin *ya iya masa panas*, dan bikin kulit sangat kering sekali. Walau uda bawa lotion, tapi karena malas pakai akhirnya kulit kaki jadi kering banget dan bersisik. Yang diinget cuma pake lipbalm doank. Hari-hari terakhir ngeri sendiri liat kulit tangan yang mengering dan jadi keriput-keriput, baru deh insap pake hand cream yang baru dibeli di Nature Republic.

Maap ya klo ngaco, namanya juga analisa ngasal. No offense kok hehe.. Tapi over all, saya mau kembali lagi ke Korea =D saya mau makan, mau belanja produk perawatan muka, mau ngerasain dinginnya winter, mau main skating di lapangan terbuka, dan yang terpenting, mau main ski lagi =))

Monday, February 9, 2015

Korea Selatan Winter Trip 2015 – part 1 (Busan)

Tiket Air Asia yang dibeli sejak bulan Februari 2014, akhirnya jatuh tempo juga di bulan Januari 2015. Tanggal 20 Januari 2015, saya bersama 2 orang kawan berangkat menuju Kuala Lumpur, transit selama 9 jam di KLIA 2 *cape transit* dan kemudian bertemu 1 orang kawan dari Medan dan 1 orang kawan dari Bali, lalu bersama-sama melanjutkan perjalanan ke Incheon, Korea Selatan. Di Incheon nanti, kami ber-5 akan bertemu lagi dengan 1 orang teman saya yang naik GA dan akan bergabung untuk menikmati 10 hari trip winter di Korea Selatan.
KLIA 2 - Air Asia di mana-mana
Tanggal 21 Januari 2015 sekitar jam 8 pagi pesawat saya mendarat di Incheon, lewat awal sekitar 20 menit dari jadwal, tapi mungkin karena sampai lebih awal jadi belum ada tempat parkir kosong, alhasil muter-muter aja di Incheon nyari parkiran *kaya mobil nyari parkir di mall klo malem minggu hihi*

Begitu keluar pesawat dan masih berada di garbarata, kami semua langsung heboh, dingin!! Berasa masuk freezer haha.. kalau tidak salah suhunya sekitar -3 derajat celcius waktu itu. Sementara suhu terendah yang pernah saya rasakan cuma sekitar 11 derajat celcius di Brisbane pas MBWT bulan Agustus tahun lalu. Untunglah waktu di KLIA2 sebelum naik pesawat kami semua sudah memakai longjohn, jadi di Incheon tinggal pakai jaket tebal saja.

Sesuai rencana, saya pergi mengambil wifiportable yang sudah diorder via internet, kemudian mampir ke 7-11 untuk membeli T-Money yang sayangnya lagi sold out, kemudian membeli KR Pass untuk 3 hari yang bisa digunakan untuk naik KTX ke dan dari Busan, dan terakhir makan siang dulu sebelum naik KTX jam 12.07 ke Busan.
Sundubu Jjigae - buanyak
Sebenarnya selain naik KTX, ke Busan bisa juga ditempuh dengan naik kereta Mu Gung Hwa atau pesawat. Tapi ga tau kenapa, yang terlintas langsung naik KTX aja. Mu Gung Hwa terlalu lambat jalannya =) karena waktu tempuh ke Busan bisa sekitar 5-6 jam, sementara KTX hanya sekitar 3,5 jam. Pesawat sepertinya ga masuk dalam opsi karena lebih mahal dari KTX :D
KTX ini mungkin semacam shinkansen kalau di Jepang *mungkin, abis belum pernah ke Jepang* :D Keretanya bersih, nyaman, ada free wifi-nya, ada yang jualan makanan & minuman, bisa naruh koper besar di ujung-ujung gerbong-nya. Norak-norak bergembira deh naik KTX. 
Di dalam KTX yang nyaman dan bersih
Sampai di Busan sudah jam 16.30, langsung menuju ke Teddy House, penginapan selama semalam di Busan yang saya book dari AirBnb. Agak manja nih, soalnya langsung mutusin naik taksi yang kemudian kami syukuri karena kalo keukeh naik metro, bakal angkat-angkat koper pakai tangga saat transit di Seomyon K Untunglah host kami udah kirim message ke saya tentang lokasi Teddy House, jadi saya tinggal nunjukkin ke supir taksi aja.

Dua hari sebelum sampai di Busan, Teddy, host-nya Teddy House udah kirim message via AirBnb untuk infoin password pintu untuk masuk ke dalam unit-nya. Keren aje ya, jadi ga usah ketemu sama host-nya dulu pun gw udah langsung bisa masuk ke apartment.

Malam-nya kami ke Seomyon (setelah beli T-Money di convenience store di lantai bawah-nya Teddy House seharga 2.500 won dan top up 10.000) , salah seorang teman dalam rombongan punya teman di Busan, dan temannya ini mengajak kami makan di sebuah restoran lokal yang menjual makanan khas sana, agujim (bahan utamanya monk fish – katanya ikannya not good looking) & gamjatang (non halal - babi dimasak bersama kua cai). Busan tidak sedingin di Seoul karena waktu sampai suhu-nya masih sekitar 6 derajat celcius, tapi selesai makan, bbrrr... kayanya uda makin dingin nih.
Malam hari di Seomyon
Keriaan malam itu - meeting a new friend, trying local dish, learning a new culture. 재미 있어요 

Sebenarnya tujuan utama ke Busan cuma pengen liat sunrise di Haeundae Beach, makanya cari penginapan juga yang di dekat Haeundae Beach. Tapi apa daya weather forecast mengatakan pagi itu cuaca berawan. Akhirnya matahari yang tertutup awan saya lihat saja dari jendela apartment tempat kami menginap =) *kudu balik lagi ke Busan* Jadinya hari itu kami pergi ke Gamcheon Cultural Village, sebuah daerah pemukiman yang rumah-rumahnya bersusun seperti di Santorini, tapi di sini lebih berwarna warni. Dari penginapan kami naik metro ke Toseong Station, dan dari exit 6 naik bus kecil nomor 17 ke Gamcheon Cultural Village. Berhubung bus udah penuh, jadi kami berdiri sambil harus berpegangan erat-erat karena supir-nya mungkin dulu mantan pembalap. Mana jalanan berkelok-kelok dan menanjak lagi. Klo ga pegangan udah kelempar ke bagian belakang bus kayanya =)) Supir bus-nya akan teriak-teriak kasi tau begitu sampai di Gamcheon Cultural Village.

Saya sempat browsing kalau sebaiknya mampir dulu ke Tourism Information Center untuk ambil map, baru meng-eksplor Gamcheon sambil mengumpulkan stamp yang ada di beberapa pos. Tapi ternyata kami berjalan ke arah yang berlawanan -_-“ Setelah berjalan ke sana ke mari mengikuti panah berbentuk ikan yang ada di rumah-rumah di Gamcheon, jajan hoddeok (makanan khas Busan di musim dingin, seperti roti diisi gula jawa *heh, gula jawa ada di Korea?* dan digoreng, lalu ditambahkan lagi biji2an kuaci dan teman-temannya), akhirnya ketemu juga Tourist Information Center-nya tapi pas kita udah mo pulang hihihi.. Dan barulah kami sadar kalo sudah salah arah =))


Gamcheon Cultural Village - colorful!

Ikuti aja panah-panah yang banyak tersebar di dinding-dinding rumah

Cape? Tentu tidak!
Cute statue
Om & Tante penjual Hoddeok di Gamcheon Cultural Village - kudu nyobain
Dari sana kami pergi ke daerah Nampo untuk makan siang, dan mendapatkan rekomendasi untuk mencoba seollongtang yang juga makanan khas sana, kurang lebih seperti  nasi sop daging sapi tapi rasa sopnya mirip samgyetang. Selesai makan, tiba-tiba teman baru yang mengajak kami dinner semalam nongol, dan dia mengajak kami naik ke Busan Tower. Baru selesai makan, kekenyangan, terus disuruh mendaki menuju ke pelataran Busan Tower. Sungguh tega-nya tega-nya..  *nyanyik*
Turis nyari arah di Nampo =))
Busan Tower

Sebelum naik, foto bareng dulu donk sama yang punya Busan =))
Tiket masuk Busan Tower 5.000 won, dan dari atas kami bisa melihat kota Busan secara keseluruhan. Ternyata bentuk rumah di sana memang seperti di Gamcheon Cultural Village, bersusun-susun dan berwarna-warni *hemm... rumahnya Yonghwa CNBlue yang mana ya?* #eh

Busan dilihat dari atas
Selesai dari Busan Tower kami segera kembali ke Teddy House, packing dan menuju 부산 alias Busan Station untuk naik KTX jam 16.30 dan kembali ke Seoul. Sampai di Seoul Station kami melanjutkan perjalanan naik Arex yang sebenarnya adalah kereta untuk ke Incheon Airport, agak lebih mahal dari metro biasa tapi lebih cepat dan ga perlu transit untuk sampai di Hongik University Station, karena kami menginap di daerah sana.

Penginapan di Seoul, Ann Guest House merupakan rekomendasi dari teman saya yang pernah menginap di sana. Dan memang recommended abis. Lokasinya strategis karena bener-bener persis di sebelah exit 1-nya Station Hongik University. Mo cari apa juga ada di daerah Hongdae. Apartment-nya sendiri bagus, bersih, tante yang punya juga baik banget *mau digangguin buat teleponin delivery order jajjangmyeon sama jjamppong jam 11 malem* hihi...

Cerita hari ke-2 di Seoul bakal dilanjut di postingan berikutnya deh biar ga cape yang baca =D