Sunday, October 23, 2016

Bertualang di Negeri Tirai Bambu (part 3)

Hari Keempat (It’s Ski Day!!)

Ketagihan main ski di Korea awal tahun lalu bikin saya pun ga melewatkan kesempatan untuk kembali main ski di Beijing. Setelah mencari informasi, akhirnya saya memutuskan main ski di Nanshan Ski Village saja. Untuk ke sana, bisa naik shuttle service dari Wudaokou. Harga shuttle-nya RMB25 untuk pergi dan pulang. Berangkat jam 8 pagi dari Wudaokou, dan kembali dari Nanshan Ski Village jam 17.30.
Ternyata cukup ramai orang yang mau ke sana. Untung saya datang pagi, jadi begitu pintu bus dibuka saya langsung masuk dan duduk paling depan. Banyak yang tidak terangkut, tapi sepertinya ada bus ke-dua yang akan datang.
Menunggu di dalam bus - suhu di luar 4 derajat Celcius

Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya bus memasuki area parkir. Semua orang langsung buru-buru turun, termasuk saya dan teman. Wuzzz.. angin dingin langsung menyerbu. Ampunnn.. Uda kebingungan mesti ke mana, pake kedinginan parah lagi. Pengennya cepet-cepet masuk ruangan biar hangat. Tapi ternyata harus beli tiket dulu di luar sebelum diijinkan masuk ke dalam pagar Nanshan Ski Village. Setelah beli tiket, saya langsung nyelonong masuk ke ruangan yang ada di depan dan sudah ramai orang. Loketnya banyak, tapi saya bingung karena kebanyakan keterangan di atas loket berbunyi “yun ding” yang artinya sudah book tiket, mungkin lewat email atau telepon. Lah kalau belum punya tiket di mana donk belinya?

Mungkin karena muka bingung saya terlalu tersirat, maka ada yang nanya “udah book belum, kalau belum di luar beli tiketnya.” Ohh.. salah tempat donk.
Tapi pas ke luar, mungkin saking dinginnya, ampe ga keliatan ada deretan loket di sisi kiri. Langsung aja nyelonong masuk ke dalam ruangan besar yang berisi loker dan tempat sewa peralatan ski.  Sementara temen udah nyelonong masuk dan saya masih di luar, langsung didatangi petugas dan ditanyakan tiket. Lah kan ga tau loket di mana, ya belum punya tiket. Terus ditunjukin deh loket berjejer di kiri yang luput dari penglihatan kami berdua. Haiyaaa...

Adegan beli tiket pun ga kalah seru. Sementara petugas di loket ga bisa berbahasa Inggris dan saya hanya berbahasa Mandarin pas-pasan. Ga mudeng-mudeng gimana cara beli tiketnya. Saya ampe nunjukin brosur yang uda diambil di ruangan sebelumnya, kasi tanda centang di brosur buat nunjukin kalau saya mau main ski 3 jam, mau sewa baju dan celana ski, goggles, gloves, ski boots, ski board, poles dan loker. Tapi pas dikasi tau harganya, lah kok mahal pisan. Saya pun kembali menjelaskan saya cuma mau ini itu ini itu. Petugas pun menjelaskan lagi kali ini sambil bilang bahwa kami ga perlu bilang ke dia mau sewa apa aja, itu nanti di dalam, dan tiba-tiba tercetus kata “ya3jin1” berkali-kali. Opo meneh ini “yajin”. Sambil tebak-tebak buah manggis, saya dan teman pun menyimpulkan kalau “yajin” adalah deposit yang akan dikurangi kalau perlengkapan yang kami pinjam ada yang rusak. Oke lah kalau begitu, kami pun langsung membayar sejumlah yang disebutkan, menerima kartu untuk menebus deposit nanti setelah main dan satu kartu lagi untuk proses pinjam meminjam perlengkapan di dalam.

Sampai di dalam, bingung lagi gimana cara sewa perlengkapannya. Hal pertama yang kami lakukan adalah mendekat ke loket yang sepertinya peminjaman baju. Ternyata benar. Di loket pertama ini kami pinjam baju, celana, goggles, gloves dan kunci loker. Tinggal kasi kartu yang tadi dikasi saat beli tiket, beres. Dari situ kami ke tempat peminjaman boots, ski boards dan ski poles. Kok keren banget yang jaga bisa tahu ukuran boots buat saya dan teman tanpa meminta kami menyebutkan nomor sepatu kami.

Peralatan sudah komplit, saatnya bertukar pakaian, menyimpan semua barang di loker dan bersiap-siap meluncur. Ihiyy...
Siap meluncur
Sambil mengingat-ingat ski lesson yang pernah saya terima di awal tahun 2015, saya mencoba memberitahu semua hal yang saya ingat tentang permainan ski ke teman saya yang baru pertama kali mencoba.

Kebetulan hari itu slope-nya sepi. Sebagai seorang beginner, tentu saya ga berani macam-macam naik lift ke atas bukit untuk meluncur. Naik eskalator pun baru dicoba setelah beberapa saat. Nekat sebenarnya. Tapi karena saya lihat sedang sepi, kemungkinan nubruk orang sih nyaris ga ada. Paling juga jatuh sendiri karena ga bisa ngerem hihi.
Keliatan bajunya minjem - kegedean banget *background: slope yang sepi banget*

Naik escalator buat meluncur dari atas
Sepi, bebas ke sana ke mari

Meluruskan kaki setelah lelah bermain-main
Total cuma 5x saya bolak balik naik eskalator dan meluncur ke bawah. Menyenangkan, tapi belum berani terlalu ngebut. Ah menyesal ga milih main sampai all day. Ga kerasa ternyata main 3 jam, belum lagi dikurangi waktu meminjam dan mengembalikan peralatan.

Selesai main dan mengembalikan peralatan, baru jam 1 siang. Kami mampir ke food court di sana, makan siang dulu sambil mikirin gimana caranya balik ke Beijing. Sayang soalnya waktu terbuang di sini cuma buat nungguin shuttle bus balik ke Wudaokou yang baru akan ada jam 17.30. Maka akhirnya dimulailah petualangan berikutnya di ski resort ini.

Sesuai informasi yang sudah saya browse sebelumnya, bahwa bisa kembali ke Beijing dengan naik bus nomor 980. Tapi harus naik taksi dulu dari depan Nanshan Ski Village. Nah, itulah masalahnya. Saya ga tau gimana kasih tau supir taksinya kalau kami mau turun di halte terdekat untuk naik bus nomor 980. Akhirnya minta tolong ke petugas di loket untuk ketikin nama halte bus yang harus dituju dalam huruf mandarin di HP saya. Kemudian saya tanya ke satpam di depan gerbang ski resort ke mana saya harus cari taksi. Eh ternyata taksinya ya di depan gerbang itu. Banyak banget, tapi ternyata taksi ga resmi dengan argo tembak RMB5000. Terus saya ngomong ke pak satpam kalau di website bilang harga taksinya harusnya RMB2500. Pak satpam pun berkelit “ohh itu harga yang dulu”. Ah si bapak mah bisa aja. Cuma gimana lagi, daripada ngabisin waktu sampai jam 17.30 di ski resort dan uda ga main lagi, mendingan balik ke kota. Bisa meng-eksplor tempat yang lain.
Akhirnya saya mengiyakan tarif, dan diantar pak supir ke halte untuk naik bus. Untunglah dapet duduk di bus walau di bagian belakang. Saya tertidur-tidur sepanjang perjalanan. Saat mulai memasuki kota, saya mulai siap-siap mau turun. Tapi bingung juga, udah sampe Dongzhimen apa belum hihi. Akhirnya bus sampai di perhentian terakhir dan semua penumpang turun. Waduh, ini di mana. Tapi untunglah gampang menemukan station Metro.
Di dalam bus kembali ke Beijing
Sampai di hostel, bingung mau ke mana. Kok ya masih ga kepikir buat main-main ke Bird Nest. Malah main ke mall tempat tadi kami turun bus. Di sana nyobain makan Pepper Lunch yang enak dan menunya berbeda dengan menu di Indonesia. Saya pesan paket sukiyaki. Ntah efek laper apa kangen nasi, pesanan saya tandas bersih tak bersisa.

Berhubung ini malem terakhir di Beijing karena besok malem kami sudah pindah ke Shanghai, maka ga lama setelah berkeliling mall, kami pulang ke hostel untuk packing dan bersiap-siap pindah kota ;)

No comments:

Post a Comment