Monday, August 22, 2016

Bertualang di Negeri Tirai Bambu (part 1)



Hari Pertama (Jakarta – Hongkong – Beijing)
Tanggal 18 Desember 2016, jam 3 pagi saya dan temen udah menuju bandara. Maklum lah, nasib tiket promo, yang murah cuma penerbangan jam 5 pagi. Masih terlalu pagi sampai-sampai counter wrap bagasi di bandara pun belum buka. Untunglah saya dan teman sudah antisipasi dengan membawa trash bag hitam dan lakban untuk membungkus carrier kami. Jadi buat yang bawa carrier, pastikan bahwa carrier selalu di-wrap untuk mencegah carrier rusak saat masuk ke bagasi.  
empat tas yang kami bawa ke China, 2 di antaranya dibungkus trash bag karena mau masuk ke bagasi

Sungguh, ini bukan sampah. Ini carrier keren kami yang sudah dibungkus trash bag
Jam 11 siang waktu Hong Kong, saya dan teman sampai di Hong Kong untuk transit selama 1 jam.
Sesuai jadwal, jam 15.20 waktu Beijing (cuma 1 jam lebih cepat daripada Jakarta), kami pun mendarat di Beijing. Begitu keluar dari pesawat, udara dingin langsung menyapa. Hello again, huge freezer.
Nonton Song Seung Heon di pesawat, sambil berharap ada adegan yang sama kejadian beneran
Begitu selesai antri di imigrasi, menunggu bagasi, dan berganti pakaian untuk menghadapi suhu udara minus di luar sana, kami menuju ke Happy Dragon Hostel.
Dari Beijing International Airport, kami menuju ke kota menggunakan airport express yang tiketnya bisa dibeli langsung di loket airport express seharga 25RMB. Kami turun di Dongzhimen station, kemudian dari situ kami melanjutkan perjalanan ke Dongsi Station yang merupakan station terdekat menuju ke hostel. Di Dongzhimen kami membeli yikatong, semacam ezylink card di Singapore, atau T-Money di Korea. Harga yikatong 50RMB, di mana 20RMB merupakan deposit yang akan dikembalikan jika kita mengembalikan kartu sebelum meninggalkan Beijing. Untuk mempermudah melihat peta metro, saya sudah download aplikasi di handphone.

Kami menuju exit B Dongsi Station, kemudian menyebrang jalan dan menuju ke gang di sebelah kantor pos. Tinggal berjalan terus saja sampai menemukan papan nama Happy Dragon Hostel yang bersinar terang dalam gelap ada di sisi kanan. Secara lokasi sebenarnya cukup ok, walau harus berjalan di gang gelap tanpa lampu setiap malam, untunglah aman tanpa gangguan sama sekali.

Setelah check in dan meletakkan barang, saya dan teman memutuskan untuk mencoba bebek peking yang terkenal di restoran bernama Quan Ju De di Wangfujing. Sayangnya, tidak ada petunjuk yang jelas bagaimana cara menemukan bebek ini setelah keluar dari station metro Wangfujing. Alhasil setelah berjalan cukup jauh di Wangfujing Avenue, saya memutuskan untuk memberanikan diri menghampiri pak Polisi yang sedang berjaga di sana. Ternyata saya sudah keterusan. Patokannya adalah China Photo Studio yang hurufnya berwarna merah, dan masuk lah ke jalan kecil yang ada di depannya. Quan Ju De ada di kiri jalan. Makan malam pertama kami di Beijing, mahal! Tapi berkesan. Kami pesan ½ ekor bebek peking, dan 1 jenis lauk yang kami kira tahu goreng tapi ternyata sepertinya daging bebek juga, dan kami ga doyan T_T
Bebek pekingnya enak, cuma saya pada dasarnya ga terlalu doyan daging. Jadi lebih menikmati best part dari si bebek yaitu berupa selembar kecil kulit bebek yang dipanggang dengan sempurna, kemudian dicocol dengan gula pasir pas makan. Begitu digigit, mulut rasanya meriah banget. Minyak dari kulit bebek yang crispy beradu dengan gula pasir yang kriuk-kriuk. Enak! Siapa ya yang menciptakan perpaduan kulit bebek dengan gula pasir ini. Brilian banget.
Makan bebek Peking di Peking

Sudah cukup malam sehingga kami tidak ke mana-mana lagi dan memutuskan kembali ke hostel untuk menebus kurang tidur supaya di hari ke-2 besok badan ga kecapean.

Hari Kedua (Summer Palace, Temple of Heaven)
Kami kesiangan bangun, sehingga baru keluar hostel jam 10-an, makan Mc Donald dulu di dekat Dongsi Station, baru menuju Summer Palace. Mungkin karena kesiangan, pork burger-nya pun udah abis.
Untuk menuju Summer Palace, bisa naik metro turun di BeigongMen Station. Di dalam station, sudah ada petunjuk ke pintu mana harus exit untuk mencapai Summer Palace. Kemudian dari exit itu, berjalan ke kiri saja sampai menemukan gerbang masuk Summer Palace. Tiket masuknya RMB40. Di depan loket banyak calo *iya, anggap aja calo* yang asumsi saya sih nawarin jasa tour di Summer Palace. Summer Palace sangat luas, dan harusnya beli map yang dijual (lupa berapa harganya, tapi akhirnya ga iklas beli) supaya tahu tujuan dan ada apa saja di dalam Summer Palace. Karena ga pegang map, jadi jalan di dalam Summer Palace tanpa tujuan, sempat mampir sebentar ke sebuah tea house yang sayang bangunannya kurang terawat dan harga teh nya muahal banget. Untung bawa minum sendiri. Makan juga sharing aja. Kalau saja kami mau sabar sedikit, beberapa ratus meter dari tea house ternyata ada food court dan toko souvenir :D
Sungai yang hampir membeku di Summer Palace
Tidak sampai habis kami memutari Summer Palace, kami harus menuju ke Temple of Heaven.
Untuk menuju ke Temple of Heaven, kami turun di station Tian Tan Dong Men. Saya curiga sebenernya tujuan kami ini sudah tutup, karena informasi yang saya baca bahwa temple tutup jam 5. Tapi kok loketnya buka ya. Ya sudah langsung buru-buru beli tiket dan masuk ke dalam. Ternyata di dalamnya ada taman cukup luas, ada om-om dan tante-tante yang main ntah kartu atau catur China, barulah kemudian ada gerbang lagi untuk masuk ke Temple of Heaven. Dan benar saja, gerbangnya sudah tutup T_T saya kesorean. Harusnya pagi ke Temple of Heaven dulu, baru ke Summer Palace.
Cuma bisa liat Temple of Heaven dari luar
Kecewa karena ga bisa ke Temple of Heaven, kami langsung cari makan, kebetulan di seberang ada mall. Kami sudah antri di Yoshinoya, tapi waktu melihat menunya, kok kayanya ga menarik ya. Akhirnya kami kabur dan menemukan food court di dalam mall. Begitu tiba di 1 stand makanan, saya lgsg “oke saya mau yang ini aja”. Soalnya ada nasinya *penting*, telor kukus, sayur hijau cah bawang putih dan sop lobak iga babi. Berasa sayur di rumah masakan mamak haha.

Selesai makan kami ke Sanlitun. Tujuan utama cuma mau belanja di Uniqlo, kali-kali lebih murah dari di Jakarta. Dari station Tuan Jie Hu, kami menyusuri jalan sambil kedinginan, sambil khawatir berjalan ke arah yang salah. Tapi begitu melihat keramaian di depan mata, saya tau kalo kami sudah menuju ke arah yang benar. Ada di Sanlitun, rasanya kaya bukan di Beijing. Beijing yang biasanya terkesan kuno, dengan bangunan-bangunan bernilai sejarah, tidak terasa di Sanlitun. Sanlitun terasa sangat modern, dengan deretan toko-toko bermerk, cafe/bar tempat nongkrong.
Untunglah heattech extra warm sedang promo buy 1 get 1. Lumayan banget lebih murah jadinya dibanding di Jakarta. Heattech extra warm ini kami butuhkan besok saat naik ke tembok China. Takut kedinginan.
Kemeriahan Sanlitun
 Di Sanlitun ada supermarket, jadi kami sempatkan belanja sedikit untuk bekal, dan jajan es di sebuah cafe bernama “Ice Monster”. Dasar edan ya, sedang musim dingin malah jajan es.
Untunglah waktu pulang kembali ke hostel, kami tidak extra kedinginan akibat menyantap es. 
  

Tuesday, February 9, 2016

Persiapan Menuju Negeri Tirai Bambu

Desember tahun lalu, saya dan seorang teman ­ngebolang ke China, mengunjungi 2 kota, Beijing & Shanghai. Cita-cita temen saya cuma pengen naik tembok China, dan klo saya ketambahan pengen main ski lagi.

China, ntah kenapa di mind set orang-orang itu selalu negatif. Toiletnya ga manusiawi, orangnya katanya galak dan tegaan. Bahkan cerita seorang teman, dia pernah diturunkan sama supir taksi di tengah jalan karena supirnya ga mo ngelanjutin perjalanan lagi. Wedew. Tapi, membaca blog-nya Pandji tentang perjalanan Mesakke Bangsaku World Tour (MBWT) di Beijing tahun 2014 lalu, bikin saya makin penasaran sama Beijing, namun di sisi lain, baca postingan mas Arie yang ikut ke Beijing pas MBWT tentang horor-nya toilet di Beijing, baca buku Naked Traveler tentang toilet di Beijing yang tak bersekat, dengar bit-nya Ernest Prakasa tentang Beijing, saya jadi maju mundur, ke Beijing, ga, ke Beijing, ga hahaha.

Saya pun jadi agak parno. Bukan saya doank, bahkan emak di rumah pun bolak balik memastikan kenapa ga ikut tour aja. Daripada 2 orang cewe dengan bahasa mandarin apa adanya jalan sendiri. Ke China lagi.
Tapi kok kayanya ga asik banget ya kalau ikut tour. Belum lagi katanya kalau ikut tour itu ada kunjungan ke toko-toko yang diwajibkan oleh pemerintah China.
Saking parnonya, saya dan temen ampe beli travel insurance. Klo saya karena parno sama China-nya, takut kenapa-kenapa di China, klo temen parno sama bagasi takut ketinggalan karena waktu transit yang terlalu mepet. Tapi syukurlah semua aman sentosa sampai kami kembali ke Indonesia.

Pembelian Tiket
Tiket ke China dibeli sekitar bulan Agustus 2015 di event Kompas Travel Fair 2015. Rencana awal adalah melewatkan Natal dan Tahun Baru di negeri Tirai Bambu, berangkat tanggal 23 Desember 2015 dan pulang tanggal 2 atau 3 Januari 2016. Tapi apa daya, tanggal 23 Desember sudah masuk blackout period di semua airlines yang berpartisipasi di travel fair, yang berarti tidak ada harga promo di tanggal tersebut. Terpaksa tanggal keberangkatan dipercepat, dan pulang juga harus dipercepat karena saya dan teman ga punya cuti lagi.
Akhirnya dapat tiket Cathay Pasific, berangkat tanggal 18 Desember 2015 ke Beijing dan pulang dari Shanghai tanggal 27 Desember 2015, sekitar 11,4juta sekian untuk berdua, dapat cash back 500ribu karena saya beli tiketnya pakai CC CIMB Niaga yang kebetulan jadi official partner di travel fair tersebut, dan bisa dicicil 12 bulan pula. Lumayan :p

Menyusun Itinerary
Hasil googling sana sini, tanya sana sini. Akhirnya dapat beberapa tempat yang ingin saya kunjungi. Saya segera menyusun list-nya, mendiskusikan dengan teman seperjalanan, dan meminta masukan dari teman yang pernah tinggal di Beijing. Sementara untuk perjalanan di Shanghai, sepertinya kami kehabisan ide mau ke mana. Sepertinya objek wisata lebih banyak di Beijing daripada di Shanghai.
Itinerary berikut saya lampirkan saat apply visa China, karena itinerary merupakan salah satu persyaratan dokumen yang diminta.
Setelah dilihat lagi, banyak juga tempat-tempat yang ga sempat dikunjungi

Tempat Tinggal Selama di China
Seperti biasa, pasti cari tempat menginap yang dekat station metro, lokasi di tengah-tengah, supaya mempermudah perjalanan, dan tidak menghabiskan waktu hanya untuk menuju ke satu tempat gara-gara tempat menginap yang kejauhan. Setelah mencari-cari di Agoda, akhirnya diputuskan untuk menginap di Happy Dragon Hostel Beijing. Sementara di Shanghai kami memilih Shanghai Fish Inn Bund.
Saya ga rekomendasikan Happy Dragon Hostel kalau mau mencari kenyamanan. Saya pesan kamar untuk berdua dengan kamar mandi di dalam. Kamarnya sempit, listrik kamar tidak stabil saat saya baru pertama datang. Parahnya lagi, water heater juga tiba-tiba rusak saat saya mandi. Tapi memang harganya murah. Saya bayar sekitar 1,47juta untuk 4 malam, untuk ber-2. Jadi seorang kurang lebih 183ribu rupiah per malam. Wajar kalau kurang nyaman. Atau mungkin hanya kurang beruntung saja sehingga dapat kamar yang bermasalah.
Maaf spreinya udah berantakan. Sebelah kanan kasur udah pintu ke kamar mandi

Kamar mandi dengan heater yang sempat rusak saat saya mandi - terpaksa melanjutkan mandi dengan air sedingin es
Setelah kurang nyaman selama tinggal di Beijing, ketika check in di Fish Inn Bund Shanghai, rasanya senang sekali. Penginapan di Shanghai ini saya rekomendasikan banget. Kamarnya luas, bersih, resepsionis dapat berbahasa Inggris dengan baik, dan lokasi yang benar-benar strategis. Tinggal jalan kaki saja ke Nanjing Pedestrian Road. Bahkan bisa juga jalan kaki sampai ke kawasan the Bund, Yu Garden. Tempat makan dan convenience store ada di dekat Inn.  Tentu saya kenyamanan yang didapat ini berbanding lurus dengan harga yang jauh lebih mahal. Saya dapat harga sekitar 2,9juta untuk 4 malam, untuk ber-2. Jadi seorang kurang lebih 362ribu rupiah per malam.

Perjalanan dari Beijing ke Shanghai
Untuk berpindah kota dari Beijing ke Shanghai, saya dan teman memutuskan naik train saja. Ingin mencoba sleeper train karena kami memilih jalan malam supaya hemat hotel 1 malam. Tapi kok ga yakin ya satu kamar dengan orang tak dikenal di satu ruangan, karena sleeper trainnya bisa diisi untuk 4 orang. Akhirnya kami memilih train kelas D, seperti kereta biasa yang bangkunya bisa direbahkan. Di China ada beberapa kelas kereta. D Train lebih lambat dibanding G Train, tentu harga juga lebih murah D Train. Untuk membeli tiketnya, kami beli online dulu lewat bantuan travel agent di China sana, kemudian memilih opsi supaya tiket dikirimkan ke hostel tempat kami menginap. Tujuannya supaya saat di stasiun kami tidak bingung harus mencari cara print tiket, dst. Melalui website www.chinatripadvisor.com, kami melakukan pembelian tiket yang sesuai dengan jadwal perjalanan kami. Pembayaran dapat dilakukan melalui kartu kredit/PayPal. Kemudian kita diminta melampirkan copy paspor juga. Saat sampai di Happy Dragon Hostel, resepsionis langsung memberikan saya paket yang berisi tiket kereta yang sudah dicetak.

Modem Internet
Saat ke Korea awal tahun 2015 kemarin, saya dan teman-teman menyewa portable modem yang bisa disharing ke 5/6 orang sekaligus. Terasa jauh lebih murah daripada mengaktifkan paket data dari provider Indonesia di luar negeri. Dan selain buat ngeksis, internet berguna kalau kita mulai nyasar. Maka ke China ini pun saya sewa modem lagi. Bedanya, internet di China tidak bisa untuk buka google, maka saya juga bayar VPN supaya saya tetap bisa akses google. Modem saya sewa dari www.3gsolutions.com.cn, berikut VPN-nya. Kemudian saya minta modem diantar ke Happy Dragon Hostel juga. Paket modem datang berikut amplop untuk kita gunakan setelah selesai menggunakan, sehingga kita tinggal minta tolong resepsionis hotel untuk mengirimkan kembali sesuai alamat yang sudah diketik di amplop.

Itinerary dan cerita perjalanan selama di China ada di postingan terpisah J

Tuesday, December 29, 2015

Premiere NGENEST Movie

Pulang kantor kemarin, gw langsung ke Epicentrum untuk ketemu dengan kawan yang ngajakin nonton premiere Ngenest *thank you Cindy uda ngajakin, thank you Ernest buat tiketnya, dan maaf Anett, teman saya satu lagi yang ketinggalan diajakin hahaha*

Sekitar jam 7 gw udah di XXI Epicentrum, dan udah rameee banget. Setelah menunggu-nunggu, akhirnya "Pintu teater 1 telah dibuka, para penonton yang telah memiliki tiket dipersilahkan memasuki ruangan teater" berkumandang.

Kami pun segera mengantri masuk dan menempati tempat duduk yang tertera di tiket kami. Acara ini dikawal oleh 2 MC kebanggaan Bekasi, Adjis dan Awwe. Ernest pun memberikan kata sambutan *resmi amat ya* mengenai pesan apa yang ingin disampaikan dalam film ini, dan diikuti oleh Sky dengan sambutannya "Makasi ya uda nonton papa aku" aww, cute. 

Ternyata ada tamu special yang datang juga kemarin malam, Wakil Gubernur DKI Jakarta pak Djarot Saiful Hidayat mewakili pak Gubernur yang tidak bisa hadir malam itu.

Setelah sambutan dari pak Wagub, saatnya menonton.
Sebaiknya tidak gw ceritakan adegan-adegan di film ini ya, daripada ntar spoiler =)

Alur cerita di film ini menurut gw pas, tidak terlalu lama dan berlarut-larut. Durasinya berasa kurang lama jadinya nih haha..

Cukup mengagetkan juga gimana perlakuan yang diterima Ernest dari jaman SD hanya karena dia seorang keturunan Cina. Beruntunglah gw yang ga pernah merasakan sama sekali di-bully seperti yang diceritakan di film ini.

Ceritanya mengalir, layaknya Ernest kalau sedang menyampaikan bit-bit stand up comedy-nya.
Emosi gw pun ikut terombang ambing di setiap adegan #tsah
Lucu, uda pasti. Mengharukan dan menyedihkan, ada juga. Adegan-adegan yang bikin penonton serempak bilang "oooww.. co cuit" pun ga ketinggalan.
Gw inget banget ada beberapa adegan di mana mata udah berkaca-kaca, udah mau siap-siap minta tissue ke tetangga, tapi batal karena langsung diajak ketawa lagi.
Beberapa adegan tentang kehidupan keluarga keturunan Cina, bikin gw cengar cengir sendiri, mengiyakan.

Pemilihan para tokoh di film ini juga menurut gw sesuai dan pas banget *masih pada pas juga pake seragam SMP hihi*
Kemunculan beberapa pemain yang ga disangka, bener-bener jadi kejutan yang gw terima selama nonton.
Soundtrack yang dibawakan oleh The Overtunes pun terasa semakin melengkapi indahnya film ini.

Keren lah pokoknya. Jadi, sebelum tahun baru, sebaiknya kunjungi bioskop terdekat karena film Ngenest akan tayang tanggal 30 Desember 2015.

Congrats koh Ernest! Ditunggu karya-karya berikutnya. Jia you!!
Foto bareng sebelum nonton

Lagi diinterview sambil ngebongkar isi tas

Dan akhirnya isi dompet ikutan digeledah juga

Para pemain Ngenest

Bapak Wagub sedang menyampaikan sambutan

Untunglah kami sempat foto bersama sebelum nonton - Thanks a lot koh!

Thursday, December 10, 2015

Looking forward for next trip

Dasar impulsif atau nafsu pengen jalan-jalan.

Tiket ke China besok belum juga lunas dibayar (maklum cicilan 12x), berangkat ke China pun belum.
Kemarin malem saya uda beli tiket lagi untuk Januari tahun depan. Kurang dari 1 bulan saya dan seorang teman mo bertualang lagi.

FYI, saya resign dari kantor yang sekarang dan punya waktu 9 hari sebelum join ke kantor yang baru. 
Sayang rasanya kalau tidak dimanfaatkan. Sementara sekarang ini kalau mau ngajuin cuti tuh deg-degan setengah mati. Jadi langsung lah cari partner, dan untung ada yang mau.

Sekarang pusing nyari tempat nginep dan nyusun itinerary lagi untuk trip yang akan berlangsung kurang 1 bulan dari sekarang hihihihi

Pengajuan Visa China


Berhubung 1 minggu lagi mau mudik ke kampung halaman *cie elah*, maka tanggal 19 November yang lalu saya dan teman pergi ke gedung The East di Mega Kuningan untuk mengajukan pembuatan visa China. Di gedung The East itu lah visa center untuk China berada. Tadinya saya pikir pengajuan visa di Kedutaan China yang jaraknya lebih dekat dari kantor, ternyata bukan.

Semua cara pengajuan visa, persyaratan dokumen termasuk harga sudah dicantumkan secara jelas di dalam website ini.

Dokumen yang dibutuhkan relatif lebih simple dibanding pengajuan visa ke 3 negara lain yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Tidak diperlukan surat keterangan kerja dan yang paling menyenangkan, tidak perlu copy rekening koran selama 3 bulan terakhir. Fiuh.

Dokumen yang diperlukan:

1. Pengisian formulir yang bisa di-download di website di atas, dan dilengkapi dengan 1 lembar foto berwarna ukuran 4x6 dengan background berwarna cerah.
2. Paspor asli yang masih valid.
3. Fotocopy halaman data paspor (yang ini saya ga perhatikan padahal sudah disebut di website, alhasil setelah sampai depan loket, saya harus ke luar dulu cari tukang foto copy terdekat. Untung petugasnya baik jadi saat kembali saya boleh langsung ke loket tanpa harus mengambil nomor antrian lagi).
4. Fotocopy KTP – sejauh mata memandang dokumen ini tidak disebutkan di website, tapi saya sudah bawa karena ada teman yang juga mau mengajukan visa dan bilang perlu pakai fotocopy KTP dan KK, namun ternyata fotocopy KK tidak diperlukan.
5. Tiket pesawat return.
6. Bukti booking penginapan.
7. Itinerary perjalanan selama di China.

Menurut informasi di website, visa center buka mulai pukul 09.00 – 15.00 untuk pengajuan Visa, dan pukul 09.00 – 16.00 untuk pengambilan visa. Jadi saya dan teman sudah sampai di The East sebelum jam 9, langsung naik ke lantai 2 dan berjalan ke sisi sebelah kanan di mana visa center berada. Saat itu sudah ada beberapa orang yang antri di depan pintu yang belum dibuka.

Tepat jam 9 pintu dibuka, dan saya langsung mengambil nomor antrian. Belum sempat duduk, nomor saya sudah langsung dipanggil. Sebenarnya kalau semua dokumen lengkap, pengurusan visa ini paling hanya 5 menit sudah selesai, tapi karena saya tidak bawa fotocopy paspor, jadi lama deh. Setelah dicek kelengkapan dokumennya, maka petugas akan mencetak tanda terima yang harus dibawa saat pengambilan nanti. Pembayaran baru dilakukan nanti saat pengambilan visa.

Saya kemarin apply ber-2 dengan teman saya, dan diberikan hanya 1 tanda terima dengan keterangan terdapat 2 paspor yang nanti akan diambil.

Hari Selasa, 24 November 2015 saya melakukan pengecekan di website mengenai status visa saya. Ternyata benar, proses-nya 4 hari kerja dan sudah bisa diambil. Jadi sekitar jam 14.30 saya ke The East untuk membayar dan mengambil paspor yang mudah-mudahan sudah ditempel visa *karena ga tau status visa-nya apakah approve atau tidak*

Sampai di visa center saya minta nomor antrian ke satpam sambil bilang “mau ambil visa”, lalu setelah menunggu nomor antrian saya dipanggil ke loket untuk melakukan pembayaran, kemudian pindah ke loket di sebelahnya untuk melakukan pengambilan paspor. Sore itu visa center agak ramai, tidak seperti pagi hari saat saya melakukan pengajuan visa. Tapi waktu menunggunya tidak terlalu lama kok.

Setelah mengambil paspor, saya langsung girang. Sudah ada visa China tertempel di sana. Saya langsung mengecek kebenaran data di visa dengan data pribadi saya dan teman untuk memastikan tidak ada data yang salah.

Ihiy, akhirnya urusan visa selesai. Tinggal packing dan berangkat. Setelah kemarin dikhawatirkan dengan badai salju yang melanda China, sekarang dikhawatirkan dengan kabut asap akibat polusi di Beijing yang sangat pekat. Semoga 1 minggu lagi kabut asap mereda karena dari foto-foto yang beredar, kabut asap ini sangat tebal dan jarak pandang menjadi sangat rendah bahkan tembok China pun tertutup asap.

Wednesday, September 2, 2015

北京,我来了!

Dua kali travelling pas musim dingin, ternyata bukan bikin kapok karena kedinginan, malah jadi ketagihan untuk travelling saat dingin.
Akhirnya keluar ide gila untuk ke Hongkong pas akhir tahun, karena Hongkong termasuk negara 4 musim yang lagi dingin di bulan Desember, dan ga perlu apply visa.

Saat mengutarakan niat untuk ke Hongkong pas akhir tahun, temen malah ngajak ke Beijing dan Shanghai. Err.. boleh juga sih, belum pernah. Dan tadinya kan emang mo ke Beijing tapi malah jadi ke Korea awal tahun ini.

Temen pun langsung semangat mencari tanggal untuk travelling dengan cuti yang terbatas, cuma 4 hari. Akhirnya dipilihlah tanggal 24 Desember 2015 s/d 3 Januari 2016. Wah mayan Natal dan Tahun Baru di negeri orang. Langsung berkhayal untuk melihat matahari pertama di tahun 2016 di Great Wall.

Keputusan untuk ke China ini dibuat di bulan Juli 2015. Masih ada waktu lah sktr 5 bulan untuk mencari tiket dan mempercantik nomor rekening untuk bikin visa.

Cita-citanya ga mau naik budget airlines, soalnya dari pengalaman ke Korea kemarin, harga tiket budget airlines (AirAsia) dan full board (Garuda) ga beda jauh. Udah gitu lebih enak full board karena ada bantal, selimut, free flow minuman, entertainment in flight. Sementara yang budget airlines harus mikir mo beli makan berapa kali, beli minum atau ngisi botol air minum ampe penuh sebelum naik ke pesawat. Ga ada in flight entertainment, harus bawa selimut sendiri karena takut kedinginan.

Jadi saya dan teman mulai searching harga tiket di website airlines full board. Duh, mahal-mahal banget yah di tanggal yang kami mau. Masa satu kali jalan udah 5juta lebih. Masa harga tiket PP ke China sama kaya harga tiket ke Eropa. Kalau mau naik budget airlines, masih dapet sih 5juta PP. Tapi sampai di China jam 1 pagi, dan pulang dari China jam setengah 2 pagi. Ga enak amat jadwalnya.

Maka saya mulai pasang radar kalau-kalau ada travel fair. Setelah agak desperado karena harga yang ga kunjung turun. Tanggal 28-30 Agustus 2015 kemarin akhirnya ada travel fair yang diselenggarain sama Kompas. Airlines-nya pun bermacam-macam ga cuma GA. Saya dan teman pun langsung merencanakan untuk dateng ke sana, dan sehari sebelumnya udah bikin plan A, plan B dst-dst supaya pas di pameran ga pake mikir lagi klo harus berubah jadwal menyesuaikan tiket. Termasuk mengecek harga tiket di web-web airlines.

Ternyata cara itu cukup efektif. Akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket Jakarta - Beijing, Shanghai - Jakarta dengan harga 5.7juta rupiah dengan Cathay Pasific. Walau, saya harus mengubah tanggal menjadi lebih awal sehingga batal menikmati matahari pertama 2016 di Great Wall karena tanggal 24 Desember 2015 sudah masuk black out period alias tidak masuk harga promo. Selain itu saya juga harus transit di Hongkong dengan waktu hanya 1 jam, dan sampai lagi di Jakarta jam 11 malam haha.. Maklum lah, mau murah, ya gimana lagi.

Yang lebih menyenangkan lagi, kebetulan bank mantan kantor adalah bank yang berpartisipasi di travel fair kemarin .Jadi, saya dapat cash back 500ribu rupiah, dan bisa nyicil 12x haha.. Sampai pulang pun masih nyicil tiket *waktu bilang minta cicilan 12 bulan, ada tante-tante yang liatin saya sambil bisik-bisik ke anaknya* Ih pasti si tante sirik deh ga punya kartu kredit bank yang ngasi promo ini =)

Jadi, beberapa lesson learned yang saya ambil dari travel fair kali ini:
1. Harus sudah punya rencana mau ke mana, tanggal berapa, berapa orang
2. Bikin kombinasi tanggal, jadi kalau tanggal awal tidak bisa, sudah langsung punya backup. Ga pake mikir lama-lama di depan mbak ticketingnya. Kasian yang antri di belakang.
3. Catat harga-harga tiket yang ada di website airlines yang diinginkan. Jadi pas dapet harga dari mbak ticketing, kita bisa langsung tahu bahwa harga yang ditawarkan memang lebih murah. Kan tujuan ke travel fair emang mau dapat tiket murah bukan :D
4. Datang awal, sepagi mungkin. Kemarin saya sampai di lokasi sekitar jam 9.30. Travel Fair baru dibuka jam 10, tapi antrian sudah ada di depan loket yang masih tutup. Semakin pagi, semakin sepi, maka semakin leluasa kita mencari info dan tidak perlu antri lama.
5. Cari informasi bank apa yang bekerja sama dengan travel fair yang akan didatangi. Lumayan, promonya banyak. Seperti saya kemarin dapat cash back dan bisa mengubah transaksi jadi cicilan. Dan yang lebih penting lagi, tidak kena charge 2,5%. Males kan kalo kena charge 2,5% atau harus bayar cash banyak-banyak.

Masih ada waktu sekitar 3 bulan untuk menyusun itinerary, mencari hotel, dan apply visa yang ternyata ga butuh copy rekening tabungan. Horay!

Friday, June 19, 2015

#HAPPINEST 6 Juni 2015 – Yang Penting Happy


Sebagai fans garis keras Ernest, tentu gw udah beli tiket #HAPPINEST di hari pertama penjualan tiket tanggal 1 Mei 2015. Di hari terakhir jadi anak kos, menjelang diusir dari kamar kos *lebay*, laptop tetep standby di meja buat beli tiket, temen sampe geleng-geleng liat kelakuan gw =D

Hari Sabtu 6 Juni yang lalu, gw dan teman-teman menuju ke Balai Sarbini dari sore. Tuker tiket, nyari makan, lalu bersiap masuk ke dalam venue. Antrian di luar agak berantakan, karena emang lobi Balai Sarbini agak sempit dan pintu masuk ada dari berbagai penjuru. Kami sempat kebingungan harus mengantri di mana karena ga ada info di manakah antrian untuk tiket Gold *songong* Tapi ternyata semua antri bersama-sama, baru di dalem berpisah mencari tempat duduk masing-masing. Duduknya juga berdasarkan kejujuran masing-masing soalnya di tiket yang kita pegang ga ada tanda lagi silver atau gold karena tulisan kelas tiketnya dirobek di depan pintu masuk yang ga dibuka berbarengan untuk semua pintu=)) *mungkin di tiketnya ada kode-kode khusus yang hanya diketahui panitia buat nandain kelas tiket* :p

Acara dimulai sekitar jam 7.45, diawali dengan pembacaan doa oleh Soleh Solihun dari Majelis Tidak Alim. Soleh meminta penonton untuk menjawab “amin” atas setiap doa yang diucapkan. Dan poin-poin doa-nya buanyaaakk bangett.. Penonton ga cuma cape nge-aminin, tapi cape ketawa juga =))
“Semoga Opini.id mau jadi sponsor lagi, tapi lain kali semoga sponsorinnya gede, ga kaya sekarang, sponsornya kecil tapi minta spot paling gede, amin?”

“Semoga Ernest dijadiin pembawa acara lagi di Kompas TV, masa cuma karena twitpic terus ga jadi pembawa acara lagi, amin?”

“Semoga cewe-cewe yang pake sandal Crocs sadar, bahwa sandal itu uda jelek, mahal lagi! Amin?” *jleb  banget ini, karena Crocs jadi sandal andalan buat ke kantor karena gampang nyucinya kalo ampe keujanan* =))

Setelah Soleh, saat-nya duo Ge Pamungkas dan Arie Keriting muncul suara-nya. Iya, cuma suaranya doank. Mereka ber-2 bacain peraturan selama menonton pertunjukan. Makin mereka bacain peraturan, makin gw berharap mereka akan muncul di panggung. Ga asik klo denger suaranya aja :p

“Dilarang merekam pertunjukan, dilarang merekam penonton, apalagi merekam penonton yang sedang merekam pertunjukan”

“Buat para komika yang menonton, dilarang menebak-nebak punchline”

“Dilarang mengeluarkan suara “eaaa.. eaaa” selama menonton pertunjukan”

“Dilarang ke luar masuk ruangan selama pertunjukan berlangsung, apalagi keluar lewat panggung”

“Penonton  yang terlambat dilarang masuk” 
 tapi statement ini disambung lagi sama Arie 
“Gimana yang telat tau kalau mereka ga boleh masuk ya, kan saat peraturan ini dibacakan, penonton yang telat belum masuk venue” *bener juga ya*
Masih banyak dilarang-dilarang lainnya yang bikin ketawa.

Setelah cukup pemanasan ketawanya, saatnya opener tampil. Komika pertama, Sakdiyah Ma’ruf.
Dimulai dengan cerita perjalanan karir-nya, di tur pertamanya Ernest yang judulnya “Merem Melek Tour” di Jakarta, Sakdiyah jadi opener di sana. Lalu ini udah stand up show special-nya Ernest yang ke-4, dan Sakdiyah masih jadi opener juga. Tapi gpp yah walau masih jadi opener juga, yang penting kan ke Oslo untuk menerima award di sana. Sebelum berangkat ke Oslo, karena akan transit di Turki, maka orang tua-nya berpesan “Kalau mau bergabung dengan ISIS, jangan sampe masuk TV” =))  Karena duduk di deket stage, gw jadi perhatiin kostumnya Sakdiyah yang ternyata malam itu pake sepatu New Balance *yay hidup New Balance* #salahfokus
Sakdiyah Ma'ruf
Selanjutnya Chevrina Anayang. Dengan gayanya yang santai dan cuek, membawakan keresahan tentang karir-nya yang jadi penyanyi tapi kurang dikenal. Orang-orang tentu lebih mengenal Tangga dengan personil-nya Kamga ato adek-nya Didi Riyadi. Terus lanjut ngebahas artis yang masih pengen jadi berita, contohnya KD. Cerita tentang KD, baju yang dipakai KD di konser Raisa, dugaan penonton kalo KD bakal jadi guest di konser Raisa, semua dibawakan dengan gaya emak-emak di komplek klo lagi ngomongin orang. Belum lagi perumpaan “lagi kehausan, pesen es teh manis tapi begitu dateng, cuma ngejilatin embun-embun yang ada di luar gelas”. Keren banget analoginya =D

Chevrina Anayang
Komika ke-3, bule kelahiran Kanada yang uda tinggal 14 tahun di Indonesia, Sacha Stevenson. Gw tau dia dari youtube, ada beberapa video youtube-nya yang gw tonton, menggambarkan kelakukan orang Indonesia, yang emang begitu lah adanya, kadang malu2in sih, tapi ya gimana =D Gw salut sama dia yang cinta banget sama Indonesia. Gw yang orang Indonesia kayanya kalah rasa cintanya sama negara sendiri. Sacha menceritakan tentang pengalamannya selama tinggal di Indonesia, dari noraknya pas pertama kali melihat sayur mayur yang ada di Superindo dan ga ada di Kanada, masak sop bengkoang karena mengira bengkoang itu sayur =)) sampe endingnya ditutup dengan bilang bahwa ini adalah the best 14 years of her life. Gile gw terharu pas denger dia ngomong gitu *emang gw mellow anaknya* ;p

Sacha Stevenson
Abis komika ke-3, ada break sejenak supaya penonton bisa ke toilet dulu dan supaya penonton yang telat bisa masuk ke venue. Duo Ge dan Arie bertugas mengisi kekosongan saat jeda ini dengan suara mereka. Mungkin karena bingung ya mo ngomongin apa lagi, yang ada mereka ber-2 jadi iseng nge-dubbing orang-orang yang baru balik dari toilet, tentu dengan komentar yang aneh-aneh. Untung gw ga pengen ke wc =)

Setelah semua penonton balik, saatnya opener tetap tour #HAPPINEST Ardit Erwandha tampil. Tampil sangat energik, ampe naik ke panggung ga pake tangga, langsung lompat aja naik. Penampilannya mengingatkan gw akan Ge Pamungkas (cuma mengingatkan, ga berarti Ardit mirip Ge yah hehe) yang dulu pun jadi opener tetap tour pertama-nya Ernest Merem Melek Tour. Ekspresif, ga bisa diem, heboh, semangat, dan cakep #eh Dimulai dari cerita-nya ditelpon sama Ernest buat diajak jadi opener.
Ernest: “Hallo Ardit, telepon gw”
Ardit: “Dasar Cina!”

Terus cerita lagi pertemuannya dengan duo serigala. Jujur, gw ga tau siapa itu duo serigala. Tapi pas Ardit cerita, baru lah gw ngeh siapa yang dimaksud =))

Dan penutupnya oke banget, cerita lagi naik pesawat dan di sebelahnya ada anak kecil. Saat pesawat mulai take off:
Anak kecil: “Ma, kita mo terbang ke langit ya”
Ardit: *dalam hati* “wah, anak pinter”
Mama si anak: “Iya nak”
Anak kecil: “ketemu Allah donk”
Ardit: @#$!# !!

Ardit Erwandha
Saat-nya yang punya acara tampil. Membuka dengan cerita bahwa show-nya kali ini katanya ga sold out, lalu dengan bijaknya ditanggapi “gpp, santai aja. Sekarang seneng-seneng dulu” abis itu baru “aduhh.. amsiong, rugi gw!!”
"Aduhh, amsiong!!"
Dari awal Ernest udah bilang, bahwa beda dengan show ILLUCINATI-nya tahun lalu yang materi-nya agak berat karena bertepatan dengan Pemilu, maka show HAPPINEST kali ini materi-nya lebih ringan. Pokoknya happy-happy aja. Bit-nya kebanyakan bercerita tentang keluarga, 2 orang anaknya Sky dan Snow, perjalanan keluarga ke Jepang, perjalanan pulang kampung ke Beijing tapi dibayarin sama orang India buat syuting film *mending lah uda pulang kampung, lah saya belum pernah nih – malah curhat*, dan cerita-cerita ringan lainnya yang sayang untuk dilewatkan *eh kok kaya pembawa acara gosip ya*. Seperti biasa, Ernest selalu membawakan bit-nya layaknya sedang ngobrol dengan penonton. Gw menanti-nanti bit Beijing karena tadinya mau dibawain di acara Gerakan Senyum Massal  tahun lalu tapi ternyata disimpen dulu, dan bit Onsen karena dari kemarin-kemarin emang stalker-in twitter-nya Ernest =))

Asli ya, kok bisa sih kepikir bikin materi begitu banyaknya hanya dari satu atau dua ide pokok. Bit Beijing tuh bisa melebar ke mana-mana, padahal pelaku utamanya cuma 1, si t*kai =)) Bermula dari penemuan t*kai di toilet, berlanjut jadi pengolahan t*kai jadi biogas yang bisa buat masak *jadi klo gas di rumah abis, tinggal suruh orang rumah setor aja ke toilet biar ada gas lagi*, sampe terakhir penemuan t*okai bertumpuk-tumpuk di toilet  cuma kurang teriakan ala cheerleaders “T-*-K-A-I, T*kai”.

Sepanjang kurang lebih 1 jam 20 menit Ernest melempar bit-bit-nya ke penonton, menguasai panggung, berputar-putar ke seluruh sisi panggung yang bunder itu supaya semua penonton kebagian lihat muka-nya, ga cuma punggung-nya aja.

Sebagai penutup, Ernest cerita tentang Sky yang masih kebingungan menerima konsep adanya perbedaan keyakinan,  kemudian akhirnya melakukan hal yang absurd yaitu menggelar kain di depan lukisan Yesus yang sedang berdoa di Taman Getsemani, berlutut dengan tangan disatukan di depan dada seperti Yesus di lukisan itu, tapi kemudian melakukan gerakan seperti umat Muslim yang sedang berdoa.

Pose Ernest di foto ini menutup HAPPINEST dengan sukses, teriring dengan tawa dan tepuk tangan penonton yang memenuhi Balai Sarbini malam itu.
Ernest menirukan Sky
Di luar leher pegel karena duduk-nya terlalu deket sama stage, gw puas nonton-nya malam itu. Kangen nonton Ernest di panggung stand up comedy terbayar malam itu. Panggung bunder dan penonton yang mengelilingi-nya bikin suasana lebih intim.
Tapi mungkin karena efek udah dibuat ketawa dari awal sama Soleh, Arie, Ge, dan 4 opener-nya, penampilan Ernest jadi berasa kurang lama, padahal udah 1 jam lebih hihihi ;p
Penyesalan gw cuma satu sih, lupa bawa kamera! Alhasil, Cuma punya foto seadanya dari handphone aja.
HAPPINEST All Stars *bener2 foto seadanya dr kamera HP*

Seperti biasa, ada sesi foto bersama selesai acara. Ernest udah keliatan kecapean, sementara Sky masih semangat berpose buat foto bersama kami =))
Salah satu foto hasil difotoin adek saya

Semoga Ernest sering-sering bikin stand up special, amin.
Semoga Ernest tetep humble, amin.
Semoga Ernest & keluarga selalu happy, amin.
*ter-Soleh Solihun*