Showing posts with label photo hunting. Show all posts
Showing posts with label photo hunting. Show all posts

Tuesday, January 6, 2015

Sunrise di Gunung Bromo Pada Musim Hujan

Mungkin beberapa teman akan ngeliat saya sebagai orang yang kurang kerjaan, hobi banget bangun subuh-subuh untuk mengejar sunrise. Ga sering-sering amat kok, belum tentu juga setahun sekali haha..

Tanggal 27 Desember 2014 kemarin, setelah sempat tertunda beberapa kali, akhirnya saya dan 4 orang teman berhasil nongkrong di Pananjakan, bersama banyak orang-orang lain, duduk di sana, menanti matahari terbit.

Setelah beli tiket, booking hotel dan booking paket sunrise Bromo, seorang teman baru nyeletuk “Kita kok ke Bromo musim ujan ya?” Dan saya pun baru menyadari, duh, bener juga ya. Mo ngejar sunrise tapi kok di musim ujan -_-“ Tapi ga mungkin mundur lagi, karena semua persiapan udah beres. Cuma bisa pasrah sambil berharap ga turun hujan di tanggal 27 pagi. Sampe tanggal 26 malem, saya dan seorang teman masih usaha nyari informasi weather forecast dan sempat desperate juga karena semua weather forecast bilang akan hujan di tanggal 27 subuh.

26 Desember 2014

Kami memilih untuk menginap di Java Banana, yang menurut review adalah hotel terbaik yang ada di sekitar Bromo. Wajar lah jika kami dikenai paket seharga Rp. 1.650.000,- untuk paket sunrise Bromo ini. Paket sudah termasuk penjemputan di Surabaya menuju Bromo, menginap di Java Banana, jeep untuk mengantar ke Pananjakan dan Kawah Bromo, serta mengantar kembali ke Malang. Perjalanan dari Surabaya ke Bromo cukup melelahkan. Terutama kurang lebih 45 menit terakhir sebelum sampai di Java Banana. Jalan gunung yang berkelok-kelok dan naik turun sukses membuat kami ber5 terdiam di mobil. Mual! Untunglah saya punya trik tersendiri untuk mengatasi mual ini. Buka aja jendela mobil, dan hirup udara segar pegunungan. Mual sedikit berkurang, dan untungnya akhirnya kami sampai di Java Banana =))

Gerimis mengiringi perjalanan kami menuju Java Banana, dan setibanya di sana, kabut tebal menghalangi pandangan kami ke bukit-bukit hijau yang ada di sekitar hotel. Waduh.. jangan sampai besok saat mau lihat sunrise kami ditemani kabut setebal itu.
Begitu sampe Java Banana, disambut kabut tebal seperti ini. Siapa yang ga khawatir -_-"
Perjalanan kali ini memang berasa kurang matang, saya ga browsing sama sekali tentang Java Banana. Yah emang ada serunya sih, karena pasti ada kejutan-kejutan yang bakal saya terima karena ga punya info apa-apa tentang hotel ini. Tapi salahnya adalah ga siapin bekal maupun cemilan apapun untuk menginap semalam di Java Banana ini. Sementara lokasi hotel jauh dari mana-mana. Siang itu pun kami makan di resto Belanga yang ada di Java Banana. Saya memesan bakmi goreng Jawa seharga 70.000 rupiah. The most expensive bakmi goreng Jawa I ever ordered haha.. Untunglah rasanya enak juga.

Selesai makan dan berfoto-foto, kami pun berusaha mencari warung untuk beli sedikit cemilan-cemilan buat bekal naik ke Bromo besok pagi. Ternyata ada warung bakso di depan Java Banana tapi saat kami lewat, ada tulisan “Bakso Habis” terpampang di jendela-nya.

Sore itu saya uda pake kostum berlapis-lapis. Selain memang dingin, kondisi badan saat itu agak kurang fit. Jadi saya mengantisipasi daripada kedinginan, mendingan dihangatkan dulu dengan memakai 3 lapis pakaian sebelum memakai jaket paling luar hahaha.. Setelah berjalan-jalan, kami melihat ada deretan warung dan memutuskan mampir ke sana untuk belanja beng-beng dan susu jahe sachetan =)) *si susu jahe akhirnya ga sempet diminum, dan dibawa ke Jakarta juga ujung-ujungnya*
Ngintip-ngintip dalemnya kaya ada stage gitu, mungkin Jazz Gunung diadakan di sini?
Kami nongkrong di Gallery yang ada di Java Banana sambil ngemil pisang goreng dan pisang bakar, ditemani segelas coklat panas. Di saat 3 orang teman sudah siap-siap untuk tidur, saya dan teman sekamar kembali ke resto Belanga dan memesan sepiring nasi goreng sebagai makan malam untuk kami ber-dua. Lagi-lagi nasi goreng termahal yang pernah saya pesan, 69.000 rupiah saja =)

Selesai makan, saatnya tidur karena kami harus bangun pukul 2 pagi dan bersiap di lobby pukul 2.30 pagi.

27 Desember 2014

Alarm saya berbunyi, jam menunjukkan pukul 02.05. Anehnya, saya ga merasa ngantuk sama sekali. Langsung bersiap-siap dan bergabung dengan 3 teman lain dari kamar sebelah untuk berjalan menuju lobby. Dalam hati harap-harap cemas juga, jangan hujan.. jangan hujan...

Udara pagi itu tidak terlalu dingin, atau karena saya udah pakai baju terlalu banyak lapis ya =)) heattech Uniqlo + kaos oblong + turtleneck Uniqlo berbahan fleece + sweater merino Uniqlo + jaket fleece Uniqlo + jaket IP Zone tebal. Lengkap dengan topi kupluk, syal dan sarung tangan pinjeman. Dan untuk bawahannya saya pakai heattech Uniqlo + celana kargo *sungguh saya bukan duta Uniqlo*

Di lobby, Kami bertemu dengan pak Tris, driver jeep yang akan membawa kami ke Pananjakan. Pagi itu masih gelap, tapi langit bertaburan bintang. Indah. Sama indahnya seperti langit di Borobudur saat saya akan naik ke Candi untuk menikmati sunrise dari atas candi. Menyesal ga belajar teknik memoto bintang di langit gelap T_T

Pak Tris menginformasikan kalau dia akan membawa kami ke Pananjakan bawah yang tidak terlalu ramai orang. Menurut pak Tris Pananjakan yang di atas sudah terlalu crowded. Kami yang ga tau apa-apa, bingung juga ketika diminta memilih. Mau ke Pananjakan yang mana? Akhirnya kami berhenti di Pananjakan bawah, dan  saat itu sudah ramai dengan jeep-jeep lain yang sudah parkir di pinggir jalan. Menurut pak Tris, coba lihat dulu di Pananjakan bawah ini kalau view-nya kurang bagus, dia bersedia membawa kami ke Pananjakan atas. Tapi kan gelap ya, Pak. Jadi kami juga ga tau gimana view-nya di sana hahaha..

Akhirnya kami pasrah aja dibawa ke Pananjakan bawah, mendaki bukit kecil dengan kemiringan yang menurut saya 45 derajat, dan cukup bikin ngos-ngosan. Lalu sampailah kami di tempat untuk menunggu sunrise. Masih cukup sepi saat itu, jadi kami dapat tempat yang cukup bagus dan tidak terhalang orang lain. Tripod pun saya pasang, dan kami ber5 berkumpul di sekitar tripod. Kami menyebutnya sebagai tempat VVIP =)

Matahari baru akan terbit sekitar jam 5.45, dan saat itu masih jam 4.30 pagi haha.... suhu udara saat ini menurut pak Tris sekitar 18 derajat saja. Berbeda dengan suhu udara di Bromo saat musim kemarau yang katanya bisa turun sampai sekitar 5 derajat. Pak Tris memberi tahu bahwa di depan kami ada gunung Batok, gunung Bromo dan di kejauhan terlihat gunung yang menjulang tinggi dan berasap. Ternyata itulah gunung Semeru. Kelap kelip lampu yang ada di dekat puncak Semeru merupakan lampu milik pendaki yang sedang menuju puncak Semeru. Keren!!  Sementara di bawah, deretan jeep sedang bermacet-macet ria menuju ke Pananjakan. Sepertinya efek musim liburan sehingga pengunjung pun membludak dibanding hari-hari lainnya.

Ketika akhirnya matahari mulai bersinar, dan semua yang di sekeliling mulai terlihat, kami sibuk foto-foto =) bukannya duduk manis menikmati indahnya alam ya. Sayang matahari tertutup awan pagi itu. Jadi hanya terlihat langit yang agak berwarna jingga. Dan sayang nya lagi gunung Batok sedang tidak diselimuti kabut seperti di foto-foto lain yang pernah saya lihat di google haha.. Kami bersyukur pagi itu tidak hujan. Jadi kami bisa menikmati indahnya pemandangan pagi itu tanpa kesulitan berarti.
Foto sejuta umat - Gunung Bromo, Gunung Batok dan Gunung Semeru dalam satu frame

Selain pemandangan gunung Batok, gunung Bromo dan gunung Semeru, saat akan kembali ke jeep, kami kembali menikmati  pemandangan pegunungan indah di sisi yang berlawanan dengan gunung Bromo. Ntah gunung apa itu, tapi saya suka sekali dengan adanya awan-awan tipis di depan gunung itu. Benar-benar kaya lagunya Katon Bagaskara, Negeri di Awan =D

Turun dari sana, kami menuju jeep lagi untuk melanjutkan perjalanan ke lautan pasir untuk naik ke kawah gunung Bromo. Karena kelamaan foto-foto di Pananjakan, kami baru sampai di lautan pasir sekitar pukul 07.00 dan hanya punya waktu 2 jam untuk naik ke kawah dan kembali ke jeep. Untuk menuju kawah, sebenarnya banyak kuda yang disewakan, dan harganya hanya 50.000 saja untuk sampai ke kaki kawah, bahkan kata seorang teman, ada yang menawarkan 100.000 untuk 3 kuda. Selebihnya harus dengan usaha sendiri, naik kaki menaiki hampir 250 anak tangga. Tapi kami kemarin merasa masih kuat untuk naik dengan mengandalkan usaha sendiri, jadi dari turun jeep sampai ke kawah, kami semua berjalan kaki. Tantangannya adalah selain jalannya mendaki, kami juga harus hati-hati jangan sampai diseruduk kuda dan menginjak kotoran kuda. Di sini masker berguna sekali akibat kotoran kuda di mana-mana. 
Betapa teriknya matahari bersinar di sini, saya langsung buka segala jaket yang tadinya dipakai

Setelah cukup ngos-ngosan, sampailah kami ke kaki kawah gunung Bromo. Saking ramainya pengunjung, 250 anak tangga untuk menuju ke kawah tidak membuat kami capek sama sekali karena dinaiki satu per satu sambil antri. Saya sebenarnya menghitung berapa persisnya anak tangga yang kami naiki, tapi begitu sampai di atas, langsung lupa hahaha..
Jangan ke Bromo pas musim liburan, lihat antrian manusia di tangga


Kawah yang ke sininya kudu naik tangga dan antri pula
 Saking ramainya, kami hanya menengok sebentar ke kawah dan langsung antri untuk turun kembali karena jam 9 kami harus sudah kembali ke jeep. Turun ke bawah lebih cepat karena memang tangga lebih kosong. Sesampainya di jeep, kami sempatkan dulu berfoto di depan jeep orange yang tumpangi dengan latar belakang gunung Batok.
[Bukan] showroom jeep

Kami pun kembali ke Java Banana dan syukurlah masih kebagian breakfast. Wah, ini mungkin efek lapar habis naik gunung. Semuanya kalap, sarapannya banyakk =))

Selepas sarapan, kami pun kembali ke kamar, packing dan melanjutkan perjalanan ke Malang.

Perjalanan ini pun semakin memantapkan kalau saya lebih suka gunung daripada pantai. Dan berjanji akan kembali lagi di musim kemarau dan tidak saat musim liburan supaya bisa lebih fokus menikmati sunrise :D

Tuesday, October 21, 2014

Borobudur Sunrise

Kalau minggu lalu, juragan Facebook, Mark Zuckerberg meng-upload fotonya yang lagi menikmati sunrise di Borobudur.
Saya juga sebenarnya ga kalah loh sama Mr. Zuck =D Bulan lalu saya juga kembali menikmati sunrise di Borobudur untuk ke-2 kalinya, bersama seorang teman masa kecil.

Ntah ini hobi atau apa, tapi untuk urusan hunting foto, walau harus bangun pagi-pagi buta, walau bangunnya susahhh... tapi saya semangat. Apalagi hunting foto sunrise dan sunset, saya tinggal setting supaya foto hasilnya under exposure, dan jadi deh foto yang keren *menurut saya* =))

Jam 3 pagi alarm berbunyi, dan saya masih males-malesan di tempat tidur. Biasa, snooze dulu.
Jam 3.30 mobil yang saya pesan sampai di hotel, dan sang driver, Pak Ganda menelpon saya memberitahu kalau dia sudah menunggu di lobi.

Off we go. Di perjalanan yang masih gelap, saya tidur aja di mobil. Lumayan lah merem-merem lagi sekitar 45an menit.
Sekitar jam 4.30an saya sampai di lobi hotel Manohara. Setelah membayar tiket sebesar 250.000 (naik 50.000 nih dari tahun lalu), saya dan teman diarahkan menuju ke pelataran candi. Udara masih sangat dingin buat saya, dan sialnya saya ga bawa jaket. Tahan.. tahan.. jangan sampe masuk angin.

Langit masih gelap, bintang masih bertaburan di langit. Jadi teringat tahun lalu ketika saya dan teman sama-sama menengadahkan kepala ke atas dan reflek "waaaaa" hanya karena lihat bintang yang ramai berkelap-kelip di langit.
Sampai di bawah tangga menuju Candi, turis-turis yang kebanyakan turis asing udah ramai berkumpul. Saya pikir akan ada briefing terlebih dahulu. Heran juga, karena tahun lalu kami diperbolehkan langsung menaiki tangga.
Ternyata.. bukan mau briefing, tapi petugas yang bawa kunci pagar terlambat datang T_T ih cape deh.
Untunglah matahari tidak keburu naik karena kami harus menunggu petugas yang terlambat itu.

Ketika pintu dibuka, dan tas diperiksa, berbekal senter kecil yang dipinjamkan, naiklah kami menuju tingkatan tertinggi candi Borobudur. Mayan cape juga.
Sampai di atas, ternyata sudah ramai dengan turis-turis yang udah pada duduk cari posisi untuk mendapatkan view terbaik dalam menikmati matahari yang lagi siap-siap mau terbit. Saya pun tak mau kalah, sibuk cari posisi, pasang tripod (kali ini bawa tripod yang besar) untuk foto-foto. Rasa-rasanya kali ini lebih ramai dari tahun lalu.

Langit gelap mulai berubah warna ke jingga, dan diiringi dengan kabut-kabut tipis di antara pepohonan di bawah sana, matahari mulai muncul perlahan-lahan. Gunung Merapi dan Merbabu yang ada di depan sana, jadi mengingatkan pada gambar saya waktu TK dan SD dulu. Gambar nasional anak Indonesia. Dua gunung, dibelah oleh jalanan, di kanan kirinya ada sawah atau rumah dan pohon haha..
Saya pun berkeliling untuk menikmati pemandangan yang ada. Sejuk sekali rasanya. Udara yang tadinya dingin perlahan-lahan mulai menghangat, kabut pun perlahan-lahan menghilang dan kali ini saya beruntung. Jika tahun lalu matahari agak tertutup awan, maka kali ini saya bisa melihat matahari bulat sempurna dengan warna orange yang cantik seperti kuning telur asin =))

Setelah puas berkeliling dan berfoto-foto, saya pun turun menuju ke hotel Manohara untuk menikmati kue-kue yang disediakan bersama dengan secangkir teh. Sementara itu, Candi Borobudur pun mulai ramai dikunjungi wisatawan karena telah dibuka untuk umum.

Oh ya, jika tahun lalu saya dapat senter sebagai souvenir, tahun ini senternya dikembalikan dan sebagai gantinya saya mendapat kain batik bergambar Candi Borobudur. Yah bener juga sih, buat apa juga ngumpulin senter =))

Setelah boss Facebook mengupload fotonya yang sedang berada di Candi Borobudur ke Facebook, pasti semakin banyak orang yang mengenal Candi Borobudur, mengetahui adanya wisata sunrise di Candi Borobudur, dan semakin banyak wisatawan yang akan mengunjungi Candi Borobudur saat sunrise.
Mudah-mudahan walau ramai, suasana tetap syahdu supaya tetap bisa menikmati keindahan sunrise yang disajikan dari atas Candi Borobudur.

Next, kapan ya naik ke bukit Punthuk Setumbu untuk melihat sunrise dari sana dengan background Candi Borobudur yang megah?

Wednesday, June 26, 2013

Ulang Taun di Candi Borobudur – 24 Maret 2013

Hari ulang tahun menurut gw sama aja dengan hari-hari lain, cuma bedanya hari itu akan dapet banyak ucapan selamat, todongan untuk traktir, dan syukur-syukur masih dapet kado haha..

Kali ini tanpa maksud untuk membuat birthday jadi lebih special, gw ikutan paket sunrise di Borobudur. Mumpung lagi ada workshop kantor di Jogja, kebetulan boleh extend, dan kebetulan banget seorang temen dari Jakarta nyusul di hari Sabtu tanggal 23 Maret. Dan temen ini semangat banget buat ikutan sunrise di Borobudur. Tentunya sambil hunting foto sunrise. 

Minggu subuh jam 3.30 pagi, gw dan temen udah di mobil yang mengantar kami ke Hotel Manohara, meeting point untuk ikutan paket sunrise Borobudur. Di mobil tidur doank yang ada, ngantuk bangettt..
Kira-kira 1 jam kemudian, kami sampai di lobi hotel Manohara. Lobi hotel cukup ramai, kebanyakan peserta tur sunrise ini adalah turis-turis asing. Setelah melakukan pembayaran di resepsionis, kami dapet tiket, senter, stiker dan dipinjemin kain untuk dililitin di pinggang. Sayangnya manajemen hotel-nya kurang ok, karena abis bayar kami dianggurin. Ga ada petunjuk harus ke mana ataupun disediain pemandu untuk ke Candi Borobudur. Turis asing biasanya sudah bawa pemandunya sendiri, jadi bisa jalan sendiri dengan didampingi pemandunya. Syukurnya driver yang bawa kami ketemu temennya yang lagi bawa tamu dari Jepang seorang diri. Jadi kami dikenalin dan disuruh ngikutin pemandu turis Jepang itu untuk ke Candi Borobudur.

Karena pagi jam 4.30 pagi, jalanan ke sana masih gelap bangettt… kami melewati lapangan rumput yang masih basah karena embun. Dan saat menengadahkan kepala ke langit yang masih gelap, cuma bisa terkagum-kagum sambil terus melihat ke atas. Bintang bertaburan sangat banyak di langit yang gelap. Rasanya udah lama banget ga pernah liat bintang sebanyak itu. Senter yang dikasi di awal emang sangat berguna, tanpa senter kayanya bisa kesandung-sandung tuh pas naik ke Borobudurnya.

Sebelum matahari mulai terbit, kami udah sampai di lantai paling tinggi. Dan mulai cari posisi untuk dapetin view yang bagus, sambil mulai nge-set kamera tentu. Sayang gw salah bawa tripod -_-“ tripod gw ternyata kate banget, dan ga bisa dipake buat foto karena terlalu pendek. Alhasil usaha tahan napas untuk foto dalam keadaan low light.


Menyenangkan rasanya punya pengalaman baru menikmati sunrise di Borobudur. Setelah sehari sebelumnya hunting foto sunset di Candi Ratu Boko, sejak saat itu jadi ketagihan untuk hunting foto sunrise maupun sunset. Indah banget liat langit yang berwarna kemerahan. Apalagi waktu flight ke Taipei bulan April kemarin, saat breakfast ditemani oleh langit yang berwarna jingga di garis horisonnya.

Saturday, March 2, 2013

Yogya I'm in Love



Berkesempatan tinggal di Yogya selama 3 taun selama SMA mungkin bisa dibilang salah satu hal yang menyenangkan dan membanggakan untuk selalu dikenang dan diceritakan.

Sekolah di SMA yang cewe semua, Stella Duce 1, hidup pertama kali jauh dari ortu, yang cuma ngerasain seminggu doank jadi anak asrama, dan dilanjutkan jadi anak kos dan sekamar sama temen baru kenal dari kota lain. Tapi mungkin karena dari SMA uda jauh dari rumah, sekarang gw bisa jadi mandiri, kelewat mandiri sepertinya haha..
Yogya juga selalu jadi kota yang ngangenin. Ntah kenapa deh.. rasanya selalu pengen balik lagi ke Yogya. Betah aja di sana. Mungkin karena wong jowo, jadi semuanya kalem. Bandingin sama kehidupan di Jakarta yang keras ini *lebay*

Setelah lulus taun 2002, rasanya jarang banget main-main ke Yogya. Pernah business trip ke sana, tapi kerja kan, bukan main-main. Atau paling sesekali, itupun cuma day trip Cilacap - Yogya - Cilacap.
Di taun 2010, bareng anak-anak OHI, gw jadi turis di Yogya. Sewa mobil, nginep di Ibis Malioboro, jalan-jalan ke Keraton, Pantai Parangtritis, Candi Prambanan, Candi Borobudur, spa di Sheraton Hotel, jalan-jalan di Malioboro.
Taun ini, anak-anak OHI udah plan untuk mengulang kenangan manis itu lagi. Diputuskan lah bulan Mei untuk ke Yogya lagi.
Ehh.. ternyata kantor gw mo adain workshop di Yogya tgl 21-22 Maret 2013. Waa.. bahagia benerrr.. apalagi diijinin extend. Langsung lah begitu uda di-confirm tentang workshop di Yogya ini, gw iseng-iseng contact temen-temen SMP yang berdomisili di Jogja. Dan gayung bersambut, mereka pun usul untuk kumpul-kumpul tanggal 23 Maret sore-nya ngumpul di Café-nya temen. Ok, ada alasan untuk extend walau sendirian haha.. tapi kembali galau juga klo extend sendirian sampe tgl 24 Maret, what should I do. Agak jayus ya kelilingin Jogja sendirian. Pengen sih street photography di Malioboro sampe Kantor Pos Besar, tapi kok serem ya klo cewe jalan sendirian, bawa-bawa DSLR pula. Lalu iseng nawarin temen untuk join, ehhh sekali lagi gayung bersambut. Kawan ini pun mau nyusul tanggal 23 Maret pagi-pagi.
Dan dengan curi start ke Yogya duluan, gw pun confirm kaga jadi ikutan klo anak-anak OHI mau ke Yogya di bulan Mei itu. Sama halnya dengan gw yang curi start ke Taiwan dulu di bulan April, saat anak-anak plan untuk berangkat bulan Oktober haha..

Tiket udah dibeli, tinggal nyusun itinerary mo ke mana aja dalam waktu yang sangat singkat. Pengen makan soto Pak Man belakang Gale, makan somay Telkom deket lapangan Kridosono, lewat-lewat depan sekolahan, makan Gudeg Yu Djum. Sisanya sih paling belanja di Mirota Batik dan tentu hunting foto. Semoga minggu depan udah punya lensa tele 55-200mm yang udah diidam-idamkan dari tahun lalu =D

Lokasi jajahan selama SMA 3 taun di Jogja 

Friday, January 4, 2013

2012 Short Review


It’s a new year, 2013 already.. reviewing what I’ve done during 2012, I think it’s mostly about standup comedy show that I watched during a year =D Luckily that I have a friend who also love to watch standup comedy too.. so I just need to find out about the show and ticket, and she will join me too haha.. Let’s sum up how many standup comedy shows that I watched during 2012:

  1. SUN at Binus by HIMJA
  2. Koper
  3. SUN Jakpus – Batak Nite
  4. Standup comedy show – Buat Pepeng at Rolling Stone Café Jakarta
  5. Merem Melek Kick Off Tour in Bandung, a special show by Ernest Prakasa
  6. Merem Melek Final Tour in Jakarta, a special show by Ernest Prakasa
  7. Standup comedy show for Charity at Coffee Toffee Hang Lekir
  8. Tanpa Batas, a special show by Sammy “Notaslimboy”
  9. Indonesia:, a special show by Pandji
  10. Cowmedy Buddy
Other than those shows, I also visited open mic event which become an occasion for comics to prepare and perform their new bits. It was funny because sometimes they will open their notes because they forget their bits =))

The other thing is about photography. I bought my Nikon D3000 about 2 years ago and and think there’s no significant improvement regarding my photography skill! Too lazy to do the photo hunting as we know Jakarta is full of shopping mall. The most favorite photo hunting spot is Kota Tua and I visited that place too many times *getting bored*. But starting from September 2012, Nikon Team held Nikon Photographer on The Street twice in a month, for free. I joined this event only three times (Kota Tua, Museum Mandiri and Bunderan HI). But not bad, I got 2 t-shirt, 1 camera strap and 1 photo book from this event haha.. If only I could join the previous 3 event, maybe I have 4 t-shirt or more already :p And surprisingly, some of photo hunting member knew me. I even didn’t know who they are haha.. Really hope that next year, there will be another photo hunting that I can join =D

2012 also become the year of travelling for me. Starting from June to October, I have one ticket every month for travelling. It was unplanned to have one ticket every month, it was just happened and I enjoyed it. June was trip to Medan, actually it was a business trip but I extended my stay in Binjai to visit Popo and relatives. July was Singapore trip with sister and 2 friends, bought the ticket a couple months back and finally the day has come. August also went to Singapore, it was unplanned trip >.< because Leehom held his concert in August 18, I hunted a cheap airlines ticket and decided to went to Singapore again. Early of September, I went to Bali with 3 friends. It was a gift to had an opportunity to stay in Ayana, Bali for free. The trip was about beach trip, visited so many beaches and getting tan after that T__T
October was my friend’s wedding in Surabaya. This was my 2nd trip to Surabaya. The 1st time was a business trip back when I was still working in Rabobank. Since it was a business trip, I didn’t have much time to explore Surabaya, and the worst was I didn’t bring my DSLR with me. So, in this Surabaya trip, I prepared my DSLR and captured so many pictures during our trip to Batu Secret Zoo and Batu Night Show in Malang. Besides, we also visited House of Sampoerna and I was able to capture to museum main entrance with my DSLR. The first time I was there, I wasn’t able to capture the main entrance using my pocket camera =D

So, what’s the 2013 resolutions.. I never set new year resolutions for myself. Just go with the flow =D
But I promise to myself that this year:

  1. Will join the mandarin class
  2. Having exercise at least once a week (swimming or walking around GBK on Saturday morning)
  3. Being able to drive a car
  4. More patient -_-“
  5. Do more saving
Other than all those wishes, I’m hoping that everything will be better in 2013, not only for myself, but also for my family. Amen.

Friday, December 14, 2012

8 Desember 2012

Buat penggemar stand up comedy di tanah air, khususnya fansnya Pandji pasti uda tau klo 8 Desember 2012 itu ada perhelatan akbar yang digelar oleh Pandji di Museum Nasional. Sebuah acara bertajuk Indonesia: yang terdiri dari  konser hip hop yang dilanjutkan dengan stand up comedy yang merupakan penutup dari rangkaian tur Merdeka Dalam Bercanda.

Nah, sebelum ngebahas tentang stand up comedy-nya, gw mo ngebahas dulu acara photo hunting yang gw ikuti untuk ke-3 kalinya yang diadain sama Nikon Team Indonesia. Photo hunting pertama gw ikuti bareng 2 orang temen di Kota Tua, ngejiper banget pas pertama kali join photo hunting gini, karena pasti saya paling cupu :p Acara ini adalah acara gratis yang diadain sama Nikon Team, judulnya Nikon Photographer on The Street, dengan didampingi oleh dua orang mentor yaitu Pinky Mirror dan Adjie Lubis. Selanjutnya, ikut lagi di Museum Mandiri, kali ini juga dengan 2 orang temen, tapi seorang temen yang dulu ikut di Kota Tua uda ga minat ikut lagi (ya iya lah ga pengen ikut lagi, hunting pertama di Kota Tua aja sama sekali ga keluarin kamera dan pengen pulang mulu). Photo hunting di Museum Mandiri ini lebih terkonsep dibanding yang di Kota Tua. Dibagi 2 group, trus kebetulan dapet mentornya Adjie Lubis yang asik banget, dan akhirnya dapet kenalan beberapa teman baru di photo hunting kali ini.

Selanjutnya gw batal ngikutin 3 kali photo hunting ini, 1 kali di Museum Mandiri, dan 2 kali di Taman Menteng. Dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, 8 Desember ini adalah photo hunting terakhir di taun 2012, dan tempatnya di Bunderan HI! Dream comes true banget haha.. dari dulu pengen banget foto di Bunderan HI, tapi ga kesampean. Agak serem kan klo ngeluarin kamera gitu sendirian. Mumpung ini dalam group, semangat lah gw ikut. Janjian sama temen yang sampe akhir acara ga dateng-dateng, gw sibuk foto-foto sendiri. Cuek aja lah sendirian, toh tujuan ikutan kan emang mo foto, bukan mo ngobrol. Berhubung mo nonton acaranya Pandji jam 8 malem, akhirnya sekitar jam 6.15 sore gw pamit pulang duluan.

Setelah ketemu sama temen yang batal ikut foto, kami berdua isi perut dulu di Bakmi Bloon deket Gereja Theresia, Menteng. Abis itu langsung meluncur ke Museum Nasional. Ternyata pas sampe sana uda jam 7.30 malem dan tempat duduk uda penuh bangettt T___T
Yah salah sendiri juga datengnya mepet, udah tau ga pake seat number ;p
Duduk di belakang sendiri, view ke panggung terblok orang-orang yang duduk di depan gw karena tempat duduknya ga dibikin nge-trap. Alhasil cuma bisa liatin layar gede yang dipasang di bagian belakang. Agak kecewa sih sama tempatnya, sama sekali ga nyaman buat nonton stand up comedy. Udah gitu jarak antar bangku sempit banget. Konser Leehom di Singapore kemarin aja masih lebih lega deh daripada susunan bangku yang ini. Pas Adriano Qalbi stand up di stage, suaranya ga terdengar jelas. Sepertinya efek ruangan yang terbuka, bikin suara juga ga terfokus, dan akhirnya penonton yang duduk belakang ga bisa denger dengan jelas. Ada beberapa penonton yang protes, tapi bisa apa juga.

Sampe akhirnya Pandji naik, gw sama temen gw beberapa kali saling bertanya-tanya "hah?", "apaan?" "ga tau nih, ga kedengeran". Di luar masalah teknis tadi, Pandji masi tetep keren. Bit-bit nya baru semua, trus actingnya juga all out. Dan kemampuan riffing-nya mengerikan. Kena deh 2 pasang penonton yang duduk paling depan dikerjain abis sama Pandji. Makanyaa.. klo nonton stand up comedy tuh jangan pernah duduk paling depan. Pasti jadi bahan celaan haha..

1 jam 45 menit total Pandji stand up comedy, dan ga berasa tuhh.. walau ga puas sama kondisi tempat dan sound system, tapi puas rasanya bisa ketawa ngakak haha..
Seorang kawan yang baru pertama kali nonton stand up comedy live pun ketagihan dan pengen nonton lagi klo ada :p

Next gig is Cowmedy Buddy di Holycow Steak Radal yang baru buka cabang di Sabang. Ada Ernest, Ge sama Adjis. Gw uda beli tiketnya, tinggal nonton sambil makan steak nih. Mudah-mudahan ga sampe keselek steak ya =))