Wednesday, January 3, 2018

Postingan Pertama di Tahun 2018

Betapa susahnya konsisten menulis di blog yang cuma satu ini ya. Perjalanan ke Iceland udah berlalu lebih dari 1 tahun lalu, tapi postingan tentang perjalanan ke sana belum selesai ditulis. Setelah ke Iceland pun udah ada beberapa kali perjalanan ke luar kota maupun ke luar negeri. Itupun ga juga ditulis. Gimana lah mau jadi travel blogger ya kalau begini caranya haha.

Jadi selain punya utang tulisan perjalanan ke Iceland, dan Denmark di tahun 2016, saya pun punya hutang banyak tulisan perjalanan ke beberapa tempat lagi.
Di tahun 2017 lalu saya sempat ke Singapore di bulan Maret, kemudian ke Taiwan di bulan Mei, ke Yogyakarta di bulan Agustus, ke Bali bulan September, ke Pontianak, Surabaya dan Binjai di bulan Desember 2017.
Kayanya ga semuanya nanti akan saya tulis cerita perjalanannya deh, karena ada beberapa yang ga ke mana-mana selain wisata kuliner dan ke kawinan teman =)

Tapi kudu nunggu niat dulu untuk melanjutkan tulisan lagi hihihi. Dan semoga belum lupa juga ya huahahahaha

Untuk sementara, saya mau pamer dulu penampilan baru saya di tahun 2018 ini *padahal udah dari pertengahan 2017 kemarin dink*
Keahlian baru: selfie di atas ojek
Bukan masker sama helm-nya yang mau dibahas, tapi kacamata-nya.

Jadi pertengahan tahun kemarin saya ke dokter mata untuk pemeriksaan mata rutin tahunan. Ternyata dari situ diketahui minus mata kanan saya yang naik sedikit dari sebelumnya. Tekanan bola mata juga lebih tinggi dari seharusnya, terutama mata kiri. Karena belakangan sering sakit kepala, maka dokter mata menyarankan saya untuk pakai kacamata supaya mata ga cepat capek, dan rutin pakai obat tetes Timol 0,5% untuk menurunkan tekanan bola mata. Maka berbekal resep kacamata dari dokter mata saya pun beli kacamata baru.

Jadi terhitung sejak pertengahan tahun 2017 lalu resmilah saya pakai kacamata kalau lagi insaf *soalnya kalau ga pakai kacamata masih bisa liat kok walau burem dikit*, dan berteman akrab dengan Timol 0,5% yang saya bawa ke mana-mana.
Dua benda yang sekarang saya bawa ke mana-mana (laptop sebagai alas foto mah laptop pinjeman aja)



Wednesday, June 28, 2017

Belanda Part 3 – Rotterdam dan Amsterdam di Malam Hari


Hari ini, hari kedua terakhir sebelum cabut dari Belanda dan menuju ke destinasi yang sesungguhnya, Iceland. Setelah kembali jadi traveller yang ga punya mobil sewaan lagi, kami hari ini ke Rotterdam naik train aja. Dari hotel kami ber-3 naik metro 50 dan turun di Lelylaan Station, kemudian beli tiket trainnya di sini. Sambil sedikit ragu dan bingung, kami berusaha pede aja beli tiket lewat mesin. Mesin ini hanya menerima pembayaran via kredit card atau OV Card (semacam Ezy Link kalau di Singapore). Maka kredit card saya pun beraksi. Penting banget untuk memastikan bahwa kartu kredit sudah pakai PIN, karena ga mungkin beli di mesin tapi verifikasi pake tanda tangan kan hihihi. Masing-masing dari kami menerima 2 lembar tiket yang bentuknya kaya kartu. Kayanya sih yang 1 itu buat dari Lelylaan Station ke Schipol, terus 1 nya lagi dari Schipol ke Rotterdam. Pas di Lelylaan Station, kami masuk sambil tap salah satu tiket yang sudah kami beli dari mesin. Kemudian pas sampai Schipol kami bingung apakah kami harus tap lagi atau ga. Apalagi mesin tap di Schipol itu kesebar aja berupa tiang-tiang di mana-mana, bukan berupa gate yang hanya akan terbuka jika di-tap. Jadi kalau di Schipol, tanpa tap kartu pun kita udah bisa masuk ke peron keretanya. Saya coba-coba tap tapi ga terjadi apa-apa. Mungkin memang ga perlu =)

Naik kereta ke Rotterdam sepertinya memakan waktu kurang lebih hampir 1 jam, ini kami sudah beli tiket yang direct, bukan yang pake transit-transit di berbagai stasiun. Oh iya, harga tiketnya dari Lelylaan ke Rotterdam blaak (stasiun kereta yang dekat dengan Kubuswoningen) adalah 18 euro per orang untuk 1x trip.

Begitu sampai di Rotterdam, kami mampir turun dulu di Rotterdam Central Station terus mencari kereta yang mengarah ke Rotterdam Blaak. Sungguh saya lupa kenapa harus turun dulu, mungkin rute keretanya emang cuma sampe Rotterdam Central Station aja kali ya.

Begitu sampai di Rotterdam Blaak, jejeran bangunan berbentuk kubus berwarna kuning  langsung kelihatan dari pintu keluar stasiun. Aha, ada food truck yang jualan jajanan khas Belanda. Kami ber-3 pesan masing-masing 1 jenis yang berbeda, biar bisa icip-icip. Duh ga ada foto makanannya, saya males moto haha. Langsung hap-hap-hap. Abis dan beli lagi *maruk* Nama makanannya pun tak ingat, sulit mengingat nama dalam bahasa Belanda gitu. Pokoknya gorengan lah.

Food Truck yang jual jajanan ala Belanda (kami ampe nambah-nambah)

Abis makan, kami berjalan-jalan ke arah Kubuswoningen. Bangunan kubus kuning yang saya lihat di film Negeri Van Oranje, sekarang ada di depan mata saya *terharu* *lebay*.
Lucu banget lihat kubus-kubus seperti jatuh ke arah yang sama, rapi, dengan warna kuning ngejreng. Dan ternyata ada hostel juga di rumah kubus ini. Ada Airbnb juga. Penasaran deh dalamnya kaya apa yah.


Kubuswoningen lagi sepi, jadi bisa bikin foto ini

Sebenarnya kami punya beberapa tujuan di Rotterdam, tapi akhirnya dicukupkan dengan berkeliling di sekitar Kubuswoningen dan mengunjungi pasar di dekat stasiun Rotterdam Blaak. Saya beli jeruk di sana *ke Beijing belanja jeruk, di Belanda belanja jeruk juga*. Mayan sih kurang kerjaan juga nenteng-nenteng jeruk dari Rotterdam dan dibawa keliling Amsterdam. Tas saya jadi penuh sekali. Tapi untung bawa ransel yang muat banyak haha.
Yang ini jualan gorengan juga, tapi berbahan dasar seafood. Kami beli udang goreng tepung sama cumi goreng tepung. Makannya pake saos yang dibawa dari Indonesia =)
Ikan segar di pasar dadakan dekat Rotterdam Blaak

Tomat-nya segar sekali
Keju segede ban vespa pun ada
Dari stasiun Rotterdam Blaak kami beli tiket kereta menuju Amsterdam Centraal Station. Harga tiketnya per orang ini kok agak ganjil ya, karena total harganya 56,6 euro, dibagi 3. Ntah deh.
Dalam perjalanan, kereta sempat berhenti sangat lama di salah satu stasiun. Kemudian terdengarlah pengumuman dalam bahasa Belanda, kemudian orang-orang mendadak pada bangkit berdiri dari tempat duduk dan turun dari kereta. Ga semua sih, tapi kebanyakan orang-orang pada keluar kereta. Lah, ada apa ini? Kami bingung. Akhirnya bertanya ke salah satu penumpang yang bilang kereta yang kami naiki ini masih menunggu agak lama lagi baru bisa diberangkatkan, ntah karena apa. Kalau mau buru-buru, bisa pindah ke kereta di peron yang lain. Baru juga kami mau ikut turun, orang-orang yang tadinya udah mengarah ke pintu, kok balik masuk lagi =)) ternyata ga jadi pindah kereta, kereta yang kami naiki udah mau jalan lagi.

Di Amsterdam Centraal Station, saya sempat mampir ke toko official merchandise Amsterdam, pengen beli hoodie, tapi untung ga ada ukuran *ga jadi beli malah untung, soalnya mahal* Begitu keluar dari station, sore itu langit berwarna sangattt indah. Orang-orang mengeluarkan kamera/handphone-nya untuk memoto langit yang cantik. Begitupun saya, sebenarnya masih pengen santai-santai menikmati keindahan langit, tapi teman saya udah ngibrit ke tempat tram-tram ngetem. Saya ga ingat naik tram nomor berapa dan ke mana =) pokoknya ngikut aja karena teman mau beli sepatu Docmart.

Cakepnya langit di Amsterdam sore itu
Sesampainya di lokasi sepatu Docmart, saya tergoda untuk nyobain dan pengen beli juga. Tapi untung insap, mo pake ke mana. Toh udah punya converse yang boots juga. Cukup-cukup. Tapi ternyata godaan datang dari toko di sebelahnya. Skechers. Haiz. Gara-gara di kantor yang sekarang boleh ber-sneakers ria, saya jadi punya alasan untuk beli sneakers baru. Toh kepake kok. Akhirnya belilah Skechers Go Ga Mat yang lagi diskon.

Sepatu udah dapet, kami pun berkeliling-keliling sambil mampir-mampir ke toko-toko di sana. Ada toko baju H & M, toko oleh-oleh, Kruidvart yang kaya Watsons di sini, toko es krim. Saya hampir beli ganja di toko oleh-oleh. Saking bingungnya mo beliin oleh-oleh apa buat adik di rumah, tanpa sadar tangan saya udah sampe ke rak yang berisi berbagai macam ganja dan olahannya. Haduh, untung nyadar.
Deretan oleh-oleh berbahan ganja yang hampir saya beli

Directory H&M, dari lantai -1 sampai lantai 4
Malam terakhir di Belanda, kami pengen cobain makanan khas Belanda. Tapi bingung juga, apa sih yang khas dari Belanda? Akhirnya setelah googling-googling, pilihan jatuh ke sebuah resto yang dapat peringkat bagus dari Trip Advisor (kami memang korban Trip Advisor, tapi ga pernah mengecewakan kok emang). Saya ga ingat nama resto-nya :p Yang saya ingat, kami sok tau pesan carpacio yang ternyata irisan daging sapi mentah. Begitu dihidangkan di meja, dan melihat irisan tipis daging berwarna merah, saya curiga kok terlihat seperti mentah, tapi sambil berharap mungkin itu semacam smoked beef. Tapi harapan itu pupus seketika begitu kami googling, yak, memang carpacio adalah makanan dengan irisan daging sapi mentah yang makannya ditemani sama daun-daun salad. Sudah dipesan, mau ga mau diabisin hahaha.

Si daging sapi mentah yang mau ga mau harus dimakan

Ini kayanya alkohol-nya sangat rendah, untuk menghindari tragedi hampir pingsan di Heineken Experience
Yang kanan itu katanya makanan khas Belanda. Kalo yang kiri sih steak ajah
Malamnya kami kembali ke hotel, sibuk packing karena besok kami terbang ke Iceland menggunakan Iceland Air. Repotnya adalah ternyata maksimal berat bagasi yang diijinkan oleh Iceland Air Cuma sekitar 22 kilogram. Sementara koper saya pas berangkat aja udah mendekati 22 kilogram, ditambah saya belanja ini itu, terutama coklat yang bikin berat. Udah pasti lebih dari 22 kilogram. Pusing pala barbie, sibuk bongkar pasang, untung teman bawa timbangan, jadi sebagian saya hand carry sekitar 10 kilogram (berat, tapi ternyata diijinkan untuk hand carry 10 kilogram maksimal).

Besok paginya saya dan seorang teman menyempatkan diri keluar dari hotel dan berjalan-jalan di sekitar Rijk Museum, berfoto dengan tulisan I AMSTERDAM yang ada di depan Museumplein Amsterdam, mampir foto-foto di kanal yang ada di Prinsengracht, dan kembali lagi ke hotel lalu cabut ke airport. Goodbye Belanda, Hello Iceland ;)

Kanal persis di depan halte tram Prinsengracht
I Amsterdam

Ketemu sama Dua Ransel dan Ransel Junior di Schipol, mereka mau ke Canada tapi transit di Iceland

Pesawat Icelandair bernama Hengill ini yang membawa kami ke Iceland

Friday, April 14, 2017

Belanda part 2 - Masih Jetlag Tapi Show Must Go On

Setelah mengalami malam tak menyenangkan gara2 napsu minum Heineken, hari ke3 di Belanda, masih dengan mobil sewaan, kami ke Kinderdijk & Volendam. Sebenarnya ada 2 tempat untuk melihat kincir angin yang terkenal di Belanda, Kinderdijk & Zaanse Schans. Setelah ditimbang-timbang, kami memilih ke Kinderdijk, karena kayanya Zaanse Schans lebih touristy. Kami kan turis anti mainstream *gaya*

Hari kedua nyetir di Belanda, saya udah lebih terbiasa. Walau tetap harus diingatkan supaya ga berada di jalur yang salah aja haha. Ada jalur tram, jalur sepeda, jalur mobil. Pusing deh. Tapi kalau sudah mengarah ke luar kota sih lebih enak, tinggal lurus-lurus aja kaya nyetir di jalan tol.

Enaknya sewa mobil ya tinggal naik, duduk, nyetir, sampai. Untuk menghemat, lagi-lagi saya bawa nasi & rendang. Secara jarak, ga jauh-jauh banget sih kayanya dari hotel sampai ke Kinderdijk. Pas sampai hotel, saya dan teman-teman makan dulu di mobil baru kemudian berjalan-jalan di Kinderdijk. Sebenarnya ada boat tour juga buat mengarungi perairan di Kinderdijk, tapi menurut penjaga loket, berjalan kaki aja udah cukup kok, gratis pula.

Akhirnya kami pun memilih berjalan kaki aja. Deretan kincir angin langsung terlihat dari dekat loket. Ada juga museum yang menceritakan kehidupan keluarga penjaga kincir angin di jaman dahulu. Jadi ternyata kincir angin itu bisa dihuni juga. Tapi saya ga masuk sih ke museum itu.
Dari jalan masuk aja udah bisa keliatan deretan kincir angin

Pose duluuuu 

Kalo winter kabarnya airnya membeku dan bisa ice skating di sini - pengen
Mungkin karena tempatnya luas, atau memang orang males juga jalan-jalan pas dingin, jadi Kinderdijk uda berasa kaya milik pribadi. Sepi banget. Mo foto-foto juga aman, ga takut fotonya bocor haha.

Setelah merasa puas melihat-lihat, kami menyempatkan mampir ke cafe kecil yang juga toko souvenir di Kinderdijk. Saya beli souvenir (yang ternyata lebih mahal harganya daripada di Volendam - menyesal deh), dan beli Chocomel, hot chocolate yang enak banget.
Nongkrong di warung kopi
Abis dari Kinderdijk, sebenarnya kami mau ke Rotterdam, tapi terus rencana digeser karena kayanya lebih mudah ke Rotterdam naik train dibanding ke Volendam naik train. Untunglah pakai mobil, tinggal set GPS, dan pergilah kami menuju Volendam. Saat sampai Volendam memang sudah agak sore, winter yang bikin gelap cepat datang, bikin Volendam jam 5 sore sudah sepi sekali. Toko-toko pun sudah banyak yang tutup. Kami menyempatkan diri mampir ke sebuah rumah makan yang menjual makanan-makanan seafood, sambil berteduh sementara karena di luar hujan. Saya yang pada dasarnya ga doyan ikan, bisa makan ikan juga selama di sini. Ga amis sama sekali :D
Volendam serasa milik pribadi, sepi

Hampir Natal dan hampir malam di Volendam
Belum ke Volendam kalau belum foto pakai baju tradisional Belanda. Maka kami pun mampir ke Foto de Boer, sebuah studio foto yang isi foto yang dipajang di dindingnya orang Indonesia semua. Dari Joshua "Diobok-obok" sampai ada foto Gus Dur dan keluarganya. Kayanya orang Indonesia kalau foto pasti di sini deh. Walau itu foto-fotonya udah ga update ya karena Joshua sekarang udah gede, sementara yang dipajang di situ saat masih bocah haha.
Curi-curi foto abis foto resmi yang berbayar 25 euro dapet 2 lembar foto
Tuh kan fotonya Joshua masih bocah, ditulisin namanya lagi

Selain foto pakai baju tradisional Belanda, di Volendam juga sebenarnya bisa melihat proses pembuatan keju dan klompen, sandal tradisional Belanda yang terbuat dari kayu
Nah mumpung masih punya mobil, kami memutuskan belanja sekalian ke Albert Heijn, supermarket besar yang cabangnya ada di mana-mana. Maka kami pun men-set GPS buat menuju ke Albert Heijn. Saatnya belanja oleh-oleh. Seperti biasa, coklat =))

Jalanan di Volendam ini gelap-gelap banget. Untung naik mobil nya rame-rame *walau cuma ber-3*. Serem juga nyetir di antah berantah yang gelap gulita gitu.

Sekembalinya ke Amsterdam, kami menaruh barang-barang di hotel, kemudian keluar lagi untuk mengisi bensin dan mengembalikan mobil ke Europcar. Ada cerita lucu saat kami pertama kali mengisi bensin di malam sebelumnya. Seperti di film-film, kalau di luar negeri itu isi bensinnya self service. Tapi kan kami ga pernah ya self service isi bensin di Jakarta. Biasanya juga kalo di pom bensin lapor dulu ke petugasnya mo isi berapa, terus dikasi kertas yang nantinya discan ke mesinnya, terus baru isi bensinnya. Nah karena ga pernah, kami bingung gimana caranya. Apakah harus masukkin angka-angka dulu? Atau langsung isi aja? Teman saya pun berinisiatif menghampiri petugas yang ada di dalam toko kecil di area pom bensin. Petugasnya bilang dia ga boleh ninggalin toko dan ga bisa bantu kami. Lalu bagaimana nasib kami =)) Mana sepertinya pom bensin yang kami pilih itu ada di daerah bronx yang isinya om bule preman gitu gayanya. Serem juga.
Akhirnya saya nekat mencoba mengarahkan selang pom bensin, layaknya mas-mas petugas SPBU di sini. Ternyata ya udah gitu aja, isi aja bensinnya sepuasnya. Terus tinggal ke toko kecil, petugasnya tau kok kita ngisi berapa, tinggal bayar doank. UDAH GITU DOANK =)))
Karena uda pengalaman, maka di malam kedua kami lebih pede donk, ga pake planga plongo dulu, langsung isi, bayar, cabut! Hahaha

Asiknya sewa mobil di Europcar, kita bebas balikin jam berapa aja di tanggal yang kita pilih. Parkirin aja mobilnya di pinggir jalan sekitaran Europcar, terus taruh kunci mobilnya di box yang disediain di pintu garasi Europcar yang udah tutup karena kami malem banget hahaha. Abis itu tinggal kirim email kasi tau di mana parkirin mobilnya, sertain foto plat mobilnya, udah tagihan langsung datang dan di-charge ke kartu kredit. Simple, ga ribet, dan bikin ketagihan sewa mobil kalau lagi jalan. Urusan parkir emang bikin bingung, kami ga pernah bayar parkir karena ga tau gimana caranya. Untung ga ada petugas juga sih wkwk. Mayan juga kalau bayar soalnya :p Di hotel pun kami ga bayar, ntah gimana ceritanya, padahal kami lapor kalo kami bawa mobil juga hihi. Rejeki anak soleh.

Abis balikin mobil, kami naik tram pakai kartu turis yang 48 jam yang udah kami beli di resepsionis hotel seharga 12,5 euro menuju ke Dam Square lagi, tapi kemudian kami turun di Prinsengracht aja karena keliatan ramai. Banyak pilihan makanan di sana, dan dasar orang Indonesia saya milih makan nasi goreng =)) Jadi ada tempat makan yang jualan goreng-gorengan gitu, boleh milih mau nasi, mie, bihun, kwetiau, dst. Terus pilih topping sayurnya apa, dagingnya apa, bumbunya apa. Enak. Antara enak atau laper sih.
Nikmat sampai butir nasi terakhir
Pulangnya kami naik tram lagi buat ke hotel, dan tidurrrr untuk mengobati jetlag yang akhirnya perlahan-lahan berangsur menghilang =)

Sunday, April 2, 2017

Iseng-iseng Ga Berhadiah

Saya emang belum bisa komit untuk rajin menulis. Liat aja postingan sebelumnya mengenai perjalanan ke Belanda, baru part 1 doank, diposting bulan Januari. Sekarang udah bulan April, dan belum ada niatan buat bikin part 2-nya :D


Sekarang posting lucu-lucuan dulu aja, karena kena tag dari Oleen untuk post 15 hal mengenai diri saya. Sulit nih, suka ga kepikir soalnya. Antara ga kepikir, atau terlalu banyak yang mau ditulis, sampe ga bisa memilih dan memilah mana yang mau ditulis.


Baiklah, let’s give it a try!


1. Saya dulu juara kelas bertahan dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP. Tiap hari pengambilan raport, deg-degan setengah mati, takut ga ranking 1 lagi. Sungguh ketakutan yang tak berguna ya. Saat SMA, ranking saya jeblok di ranking 8 pada SMA kelas 1. Walau berhasil mengejar, tapi posisinya sudah ga selalu di puncak, berputar-putar aja antara ranking 1-3. Tapi percayalah, hal ini ga berguna kok di dunia kerja haha.

2. Olahraga yang diperkenalkan ke saya sejak kecil adalah bulutangkis. Tiba-tiba waktu SD kelas 5 atau 6 diajak main tenis meja sama guru olahraga. Tentu saya tidak bisa. Gaya pukulan yang biasa diterapin di bulutangkis, sangat berbeda sama gaya pukulan di tenis meja. Tapi tenis meja tetap saya tekuni sampai saat SMP saya ikut perlombaan antar sekolah dan jadi juara 2 di antara 3 peserta hahaha. Itupun karena saya bye, coba kalau teman saya yang bye, sudah tentu saya yang juara 3.

3. Saya mulai hidup jauh dari orang tua sejak lulus SMP. Orang tua dan adik-adik di Cilacap, sementara saya SMA di Yogyakarta. Sempat tinggal di asrama 1 minggu, tapi kemudian akhirnya beralih jadi anak kos sampai lulus SMA, dan berlanjut jadi anak kos waktu kuliah di Binus Jakarta.

4. Sempat diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, tapi tidak saya ambil. Selain biaya kuliah yang mahal (waktu itu diminta langsung membayar 40juta rupiah), saya juga ga yakin-yakin banget bisa survive kuliah kedokteran huahahaha.

5. Sejak lulus kuliah tahun 2006 sampai sekarang, selalu kerja di Bank, lebih spesifik lagi di Internal Audit, dan sudah berkali-kali pindah bank. Tapi masih di bidang yang sama.

6. Saya orangnya ga sabaran dan suka marah-marah ga jelas. Sudah berusaha berubah, tapi kok sulit ya. Padahal capek loh marah-marah ga jelas gitu.

7. Baru bisa nyetir mobil tahun 2013, sempat nyetir ke mana-mana tanpa punya SIM selama kurang lebih 1 tahunan.

8. Suka banget sama penyanyi Taiwan Wang Leehom sejak tahun 2001, sampai jadi Admin Fans Club Indonesia, pergi ke luar negeri buat nonton konsernya, koleksi albumnya dari album pertama tahun 1995. *sekarang lagi ga aktif nih dia*

9. Suka nonton stand up comedy. Sejak pertama kali nonton Pandji ber stand up comedy di salah satu cafe di Senayan City, kemudian nonton stand up comedy show pertama-nya Pandji yang judulnya Bhinneka Tunggal Tawa tahun 2011, jadi keranjingan nonton stand up comedy secara live. Dari nonton Bhinneka Tunggal Tawa jadi kenal komika bernama Ernest Prakasa yang sekarang uda jadi juragan Cek Toko Sebelah.

10. Suka melakukan hal-hal yang menurut orang mungkin ga penting dan aneh dengan komentar “ngapain sih, kurang kerjaan ya”. Contoh: belajar membatik, belajar bikin shibori, mewarnai gambar, bikin cross stitch. Dan satu lagi, suka foto, tapi selalu ngerasa saya sebenarnya ga punya “eyes of photographer”. Selalu bingung menentukan komposisi dan angle foto yang bisa bikin sebuah foto menarik. 

11. Orangnya strict to the rules banget. Mungkin gara-gara kelamaan jadi auditor? Paling ga suka kalau harus melanggar peraturan atau liat sesuatu yang menyimpang. Gemesss aja bawannya.

12. Duluuuu ga terlalu doyan makan pedes, tapi sekarang, ckckck. Sambel Bu Rudy aja pengen nambah mulu.

13. Dari dulu ga pernah feminim, cenderung tomboy. Sementara kebanyakan cewe-cewe belinya flat shoes, saya lebih suka beli sneakers. Suka goyah aja klo liat sneakers keren #parah

14. Suka travelling, syukurnya dapat rejeki untuk ke luar negeri. Negeri pertama yang disinggahi adalah Singapura di tahun 2007, setelah kerja dan punya uang sendiri. Setiap perjalanan pasti meninggalkan kesan tersendiri, dan salah satu yang selalu saya bangga-banggakan adalah pas ke Brisbane sama Pandji Pragiwaksono waktu Messake Bangsaku World Tour tahun 2014. Gratis tis, cuma keluar uang buat beli oleh-oleh :D

15. Ga tahan dingin, tapi doyannya pergi-pergi pas winter. Terobsesi sama salju :D Semoga makin banyak negara yang bisa dijelajahi lagi _/|\_


Sekarang saya tag Ameilia buat ngelanjutin ya :D 

Tuesday, January 31, 2017

Belanda part 1 - Menghadapi Jetlag di Belanda



19 November 2016
Sapaan “Apa kabar?” dan “Terima kasih” dari seorang mas bule petugas imigrasi di Bandara Schipol, Amsterdam mengawali perjalanan 14 hari saya dan teman-teman di benua Eropa.

Begitu paspor dicap, saya dan teman langsung mendorong koper kami keluar dari imigrasi, melewati bagian custom dan untunglah kami bertiga berikut rendang ½ kilo dalam koper saya berhasil memasuki Belanda dengan selamat tanpa kena random check.

Hal pertama yang kami lakukan adalah mencari SIM Card, kebetulan banget ada booth Lebara di dekat tempat kami berdiri. Maka kami langsung beli 1 SIM Card untuk dipakai beramai-ramai selama 5 hari kami di Belanda.

Hal kedua yang dilakukan, dan sebenarnya norak adalah keluar dari airport dan mencari tulisan “Schipol” yang sering jadi spot foto orang-orang. Padahal seharusnya kami tinggal naik train dari dalam airport, tidak perlu keluar dulu. Tapi demi kepentingan dokumentasi :p kami bela-belain deh tarik-tarik koper keluar dari bandara sebentar, foto, lalu balik lagi ke dalam bandara.
Berfoto di depan tulisan Schipol yang tersohor
Buat ke Corendon Vitality Hotel, kami harus naik train dulu ke Stasiun Lelylaan, baru kemudian naik metro nomor 50 dan turun di Isolatorwerg yang dekat dengan hotel. Tinggal tarik-tarik koper lagi, dan sampailah kami di Corendon Vitality Hotel. Proses pembelian tiket train di bandara ga ribet, karena selain bisa beli lewat mesin, ada berderet counter tiket yang melayani pembelian. Jadi kalau ga yakin beli lewat mesin, bisa antri aja di counter dan bisa beli sambil tanya untuk memastikan. Sementara pas di stasiun Lelylaan, petugas ga ada *sebenarnya ada counternya tapi ntah ke mana petugasnya*, terpaksa beli lewat mesin, dan kebingungan. Untunglah bertemu seorang ibu baik yang membantu kami membeli tiket lewat mesin.

Kami mendarat di Belanda sekitar jam 12.30 waktu Belanda, setelah terbang berbelas-belas jam lamanya. Badan masih cape, belum lagi jet lag. Hari itu kami cuma  jalan-jalan sebentar ke Dam Square, makan di Mc D, foto-foto sebentar, belanja groceries di Albert Heijn, dan kembali ke Hotel. Hotelnya walau jauh dari pusat keramaian, tapi dikelilingi sama public transportation yang mempermudah hidup. Ada stasiun metro Isolatorwerg, dan ada halte tram line 2 bernama Johan Huizingalaan.

Hari pertama di Belanda, saya langsung melihat keterikatan antara Indonesia dan Belanda, mungkin efek Indonesia lama dijajah Belanda kali ya. Jadi banyak bahasa Indonesia yang memang merupakan bahasa serapan dari bahasa Belanda. Di Mc D, salah seorang kasirnya mengajak kami ngobrol dan begitu tahu kami dari Indonesia, dia langsung berbahasa Indonesia walau bahasanya sangat baku dan logatnya ala bule banget. Ternyata bapaknya orang Makassar yang menikah dengan orang Belanda dan mereka tinggal di Belanda. Di supermarketnya terpampang poster bertulisan “Gratis”, yang tentu spellingnya berbeda karena “G” di Belanda kabarnya dibaca seperti huruf “H” tapi susah deh H-nya. Selain itu di rak-rak barang di supermarket pun banyak saya temui produk-produk yang harusnya sih bertuliskan bahasa Indonesia, seperti emping blado dan ketjap manis, bumbu nasi dan bami goreng. Ah menarik sekali.

Malam pertama di Belanda, saya ngantuk luar biasa. Mungkin efek jet lag, selain itu selama di pesawat kan juga ga tidur nyenyak banget. Maka hari pertama di Belanda berlalu begitu saja. Kami pulang ke hotel dan tidur cepat untuk mengembalikan energi yang terkuras karena besoknya kami akan memulai perjalanan ke luar kota dengan mengendarai mobil sewaan. 

20 November 2016
Efek jetlag bikin saya uda kebangun jam 5 pagi, kelaperan pula. Setelah memaksakan mata untuk tetap terpejam sambil berharap bisa tertidur lagi, akhirnya jam 6 pagi saya menyerah, bangun dan masak air panas buat merendam Super Bubur yang saya bawa dari Indonesia. Teman-teman saya ternyata udah pada ga bisa tidur juga. Maklum lah, jam 5 pagi di Belanda, udah jam 11 siang di Indonesia. Badan kami masih badan Indonesia. Setelah menyiapkan bekal buat makan siang di perjalanan nanti (saya bawa nasi sama rendang), kami pun berangkat menuju ke tempat persewaan mobil Europcar. 

Kami membeli 24 hours pass dari resepsionis hotel untuk naik tram, seharga 8,5 euro. Menurut petunjuk yang didapat teman saya, kami harus naik tram nomor 2 ke halte Corn. Schuytstraat, terus berjalan melewati Vondel Park. Beruntung kami bertemu seorang penduduk lokal ganteng yang lagi bawa anjingnya jalan pagi dan ternyata pernah tinggal di Indonesia, melihat kami kebingungan, dia menghampiri dan menunjukkan jalan sampai di satu titik kami harus mengandalkan diri sendiri lagi, tentu berdasarkan petunjuk yang ditinggalkan oleh si om ganteng tersebut.

Bulan November ternyata masih musim gugur di Belanda - kirain sudah masuk musim dingin
Sampai di kantor Europcar, kami mengisi data, menunjukkan SIM Nasional dan SIM International dan di-briefing tentang mobil yang kami sewa, Peugeot matic ntah tipe apa. Modelnya kecil kaya Honda Jazz. Di antara kami ber-3, hanya saya dan seorang teman yang bisa nyetir. Saya yang menyetir pertama gara-gara kalah pas undian hahaha. Duh, grogi. Setir kiri-nya ternyata ga terlalu jadi masalah. Masalahnya adalah letak tongkat wiper dan lampu sein yang terbalik. Alhasil saya salah mulu. Rambu-rambu lalu lintas sangat jelas, kelewat jelas malah. Menyetir di dalam kota jauh lebih pusing, tapi begitu udah menuju jalanan ke luar kota (semacam highway alias jalan tol di Indonesia), udah enak banget. Tinggal lurus aja, sambil tetap memperhatikan laju kendaraan karena di beberapa potongan jalan, maximum speed-nya beda-beda.

Setelah berkendara hampir 2 jam, sampailah kami di Giethoorn. GPS yang ada di mobil mewajibkan kita untuk menginput nama jalan dengan lengkap. Sementara kebiasaan saya dan teman kalau pakai Waze di Jakarta, ya tinggal menginput nama lokasi yang ingin dituju. Sementara, tidak ada petunjuk mengenai nama jalan lokasi desa wisata Giethoorn. Alhasil kami berputar-putar kebingungan mencari di mana kami harus parkir dan di mana sebenarnya desa wisata Giethoorn seperti foto-foto yang ada di internet. Untunglah setelah berputar-putar dan sedikit sok tahu, sampailah kami di area parkir depan supermarket. Ternyata di belakangnya ada sebuah cafe kecil yang menyewakan perahu untuk berkeliling Giethoorn. Setelah beli tiket, kami kembali ke mobil untuk makan siang soalnya perahu baru berangkat 1 jam lagi *lagi-lagi ketemu bule ganteng yang jaga loket*.

Boat tour di Giethoorn memakan waktu sekitar 1 jam, berkeliling kanal-kanal di sana, kemudian mendengar sedikit cerita tentang Giethoorn yang diceritakan oleh nahkoda perahu *yang lagi-lagi ganteng juga*. Perahu yang kami naiki cukup besar, dan karena sedang winter maka perahu tertutup untuk menjaga supaya penumpangnya tetap hangat. Tapi yang menyebalkan jadi tidak bisa berfoto dengan leluasa karena tutup yang terbuat dari plastik tebal itu terkena titik-titik air hujan. Fotonya jadi ga clear deh.
Suasana di dalam boat, ga terlalu ramai

Gedung pertemuan di Giethoorn, difoto dari dalam boat - jadi ada titik-titik air dari jendela boat

Amazed banget liat perumahan di antara air ini

Setelah 1 jam berkeliling dengan perahu, kami sampai kembali di titik awal keberangkatan dan kami memutuskan untuk berjalan kaki mengelilingi Giethoorn, napak tilas lagi rute-rute yang tadi dilewati perahu.

Setelah berputar sebentar, kami memutuskan kembali ke mobil karena angin yang mendadak bertiup super kencang, kalau kurang berat badan sih sepertinya bisa diterbangkan angin hahaha.
Sebenarnya ada kok jalan setapaknya di Giethoorn

Boat sedang melintasi salah satu kanal di Giethoorn

Dari Giethoorn kami kembali ke Amsterdam, di perjalanan saya menyupir, ngantuk luar biasa. Lagi-lagi masih jetlag. Untung ada cemilan dan teman mengobrol. Malam itu kami ke Heineken Museum di Amsterdam. Cari parkirnya susah banget, bingung harus parkir di mana. Tapi akhirnya kami menemukan jalanan kecil yang di kanan jalanannya penuh oleh mobil parkir dan ada satu slot kosong yang muat untuk mobil kecil kami.

Tiket masuk Heineken Museum sebesar 18 euro, sudah termasuk free 2 gelas bir. Museumnya menarik, menceritakan sejarah Heineken, proses pembuatan bir, sampai ada mesin-mesin brewing juga dipajang di museum ini. Jadi bir itu sebenarnya air kok, karena 94% air dan sisanya hops, barley dan yeast. Selain itu, ada juga jejeran kandang kuda berikut kudanya yang ternyata sampai sekarang pun kuda masih digunakan sebagai bagian dari promosi Heineken. Pada hari tertentu kuda-kuda ini akan berkeliling kota mempromosikan Heineken.
Bahan-bahan buat bir - 94% water, sisanya barley, hops dan yeast

Suasana di dalam musium-nya - yang gede-gede itu tempat buat nge-brew jaman dahulu kala

Tersangka yang bikin saya mual dan pusing - enak banget padahal, dinginnya pas

Ada kejadian menyebalkan buat saya di sini. Akibat minum satu gelas bir dalam sekali tarikan napas-maklum haus banget, dalam keadaan perut kosong, saya hampir pingsan. Pandangan sudah hampir hitam semua, mual, sempoyongan, keringat dingin-tapi karena winter keringatnya ga keluar, cuma dinginnya doank. Kunci mobil langsung saya serahkan ke teman. Tapi untunglah setelah duduk sebentar, keadaan membaik, dan setelah makan korean BBQ di restoran Korea bernama Khan, saya langsung segar kembali hihi
Restoran nya dikelola orang keluarga Korea yang lagi party karena ada salah satu dari keluarganya yang mo balik ke Korea
Demikianlah petualangan di hari ke-2 yang ditutup dengan makan Korean BBQ. Kemanapun perginya, makannya tetap makanan Korea.